Tragedi Berdarah di Hari Valentine

Tidak selamanya hari kasih sayang seindah merahnya mawar, kadang bisa jadi sengeri merahnya darah

Hari Valentine alias hari kasih sayang yang jatuh pada 14 Februari setiap tahun merupakan simbol keagungan asmara. Sudah umum di hari itu ada kencan sepasang kekasih dimana-mana dan berbagai kalangan yang diikat asmara pasti merayakannya. Walau tidak pernah menjadi hari libur nasional, Valentine Day merupakan salah satu hari istimewa, terutama kalangan muda yang mabuk asmara.

Namun, tidak sepenuhnya hari Valentine berjalan indah, seindah dirasakan oleh para kaum bucin (Budak Cinta). Pada tanggal 14 Februari 1929 terjadi tragedi berdarah di Chicago. Kala itu, kota tersebut didominasi oleh para mafia, yang paling terkenal adalah Al Capone dan Georga “Bugs” Moran. Saling bersaing serta bermusuhan, mereka berdua sangat berpengalaman dalam dunia penyeludupan, penggelapan uang, pelacuran, dan lainnya.

Al Capone adalah pemimpin dari Chicago Outfit atau dikenal juga South Side Gang yang didominasi oleh imigran Italia dan Unione Siciliana (Organisasi Italia-Amerika), sedangkan George Bugs Moran ialah pemimpin North Side Gang yang mayoritas anggotanya berasal dari Irlandia Utara. Kedua gang tersebut sering melakukan kriminal dan beradu jotos di Chicago. Perselisihan ini merupakan warisan dari perselisihan Dion O’banion dan John Torrio yang berakhir dengan tewasnya O’banion karena ditembak kepalanya. Capone dahulu merupakan bawahan Torrio sedangkan Moran bawahan O’banion.

Konflik kedua gang tersebut sangat sengit seperti Moran Bugs ingin menguasai pabrik hitam yang dimiliki oleh Sang “Scarface” (julukan Al Capone). Sedangkan Capone dan gangnya merasa tersaingi dengan kehadiran gang Bugs. Puncaknya, tanggal 14 Februari pukul 10:30 waktu setempat, ada empat orang memasuki markas gang Moran di garasi mobil 2122, North Clark Street. Empat orang tersebut terdiri atas dua orang berseragam polisi, sedang sisanya mengenakan jas dan berdasi.

Moran, yang menunggu kiriman alkohol dari Kanada melihat 2 polisi yang masuk ke markasnya, hanya mengira anak buahnya akan ditangkap. Bukan masalah besar baginya. Beberapa menit setelah masuk terdengar suara berondong tembakan. Korban keseluruhan tujuh orang. Mereka adalah 5 anggota gang Moran, 1 seorang optik dan 1 seorang mekanik. Seperti yang dilampirkan oleh Tirto.id, berdasarkan hasill penyelidikan polisi (yang asli) ada sekitar 160 peluru, masing-masing menembak enam sampai sepuluh peluru, tidak ada perlawanan dari korban karena pelaku datang dengan senjata lengkap dan korban posisi angkat tangan berhadap ke tembok.

Frank dan Peter Gusenberg menjadi korban dari pembantaian tersebut, mereka berdua salah satu kepercayaan Bugs Moran. Dari pembantaian tersebut, satu orang selamat, yakni Frank Gusenberg. Padahal ia mendapat 14 tembakan. Ketika ditanyai polisi, Frank tidak mengakui ada yang menembaknya dan ia tidak menjelaskan apapun soal pembantaian tersebut. Pembunuhan tujuh orang ini merupakan konflik terbuka yang terakhir bagi Capone dan Moran.

Tragedi ini merupakan pukulan telak bagi Moran, sehingga harus menyerahkan lahan bisnis hitamnya kepada Capone. Moran sudah kehilangan banyak orang yang dipercayainya dan kekurangan dana untuk melanjutkan bisnis gelapnya. Moran sudah memiliki prasangka bahwa yang mampu membunuh orang seperti itu hanyalah Capone.

Penyebab konflik antara mafia bercorak Italia dan Irlandia ini lebih utama adalah penyeludupan alkohol. Saat itu Amerika melarang perdagangan miras (prohibition era). Kebijakan ini gagal. Sebagai akhir dari perkelahian dua raksasa mafia tersebut, Al Capone ditangkap karena kasus pajak tahun 1931 dan George Moran juga ditahan karena tuduhan kecil pada 1946. Moran meninggal di penjara Leavenworth pada 1957 akibat kanker paru-paru.

Setelah FBI melakukan penyelidikan, diduga Jack McGurn yang menembak tujuh orang tersebut dan dalangnya sudah diduga Al Capone, namun masih belum mempunyai bukti yang kuat. Pasalnya, saat itu Al Capone sedang berlibur di Miami, Florida. Salah satu indikasi kuat merujuk pada Scarface karena sebelum hari pembantaian tersebut, orang kepercayaan Al Capone, Pasqualino Lolordo, tewas dibunuh oleh anggota gang Moran.

Kendati ada indikasi bahwa otak pembantaian ini adalah Capone, dia akan sulit ditangkap karena punya alibi yang kuat; yakni sedang berlibur di Miami. Kala itu, FBI memberi julukan pada Al Capone sebagai Musuh Publik Nomor Satu. Presiden AS saat itu, Herbert Hoover menyatakan sikap dan memberi perintah pada William Mitchell, jaksa agung AS untuk mengusut kasus ini sedangkan menurut komisaris kepolisian Chicago, William F. Rusell, kasus ini merupakan awal perang mereka kepada mafia.

Ketika publik tahu bahwa Jack McGurn merupakan jagal dari pembantaian ini, dia lalu dibunuh saat sedang bermain bowling dengan senapan mesin. Kasus pembunuhan di saat keramaian tersebut tidak pernah ditangkap pelakunya, namun kecurigaan besar terarah kepada “Bugs” Moran. Pembunuhan ini terjadi tujuh tahun setelah pembantaian di hari Valentine.

James Sledge, penjabat kantor kesehatan Cook County dan pecinta sejarah lokal, menemukan hasil otopsi tujuh korban pembantaian tersebut. Menurut Chicago SunTimes yang mewawancarai beliau, ia merinding ketika membaca dokumen dan menjelaskan dengan rinci. Dokumen yang usianya hampir 90an tahun itu sekarang masih berada di Cook County Dia masih menjaganya dengan apik. Kasus ini sulit sekali diselidiki, wajar saja karena waktu itu pengetahuan forensik masih minim dan teknologi kepolisian masih seadanya.

Penulis: Muhammad Arsyad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *