Sepak Bola Indonesia Darurat Kedisiplinan Pola Makan

Foto: jawapos.com

TIMNAS sepakbola Indonesia U-19 bermain imbang dengan skor kacamata ketika untuk kedua kalinya kembali melawan Macedonia Utara dalam lanjutan program pemusatan latihan yang dihelat pada tanggal 14 Oktober kemarin di Kroasia.

Ini merupakan hasil yang terbilang cukup positif karena menambah panjang rekor tidak terkalahkan Timnas U-19 setelah sebelumnya berhasil memetik kemenangan tiga kali beruntun ketika melawan Dinamo Zagreb, Dugopolje, dan Macedonia Utara.

Selain dari pola permainan, salah satu hal yang menjadi sorotan dibalik serentetan hasil positif tersebut adalah kondisi fisik para pemain timnas U-19 yang cukup memuaskan. Mereka memiliki massa otot dan stamina yang lumayan bagus sehingga tidak mudah loyo ketika duel satu lawan satu dengan pemain lawan yang memiliki tubuh lebih besar dan jangkung.

Ini tentunya tak terlepas dari penerapan kedisiplinan para punggawa timnas dalam menjaga kedisplinan pola makan selama melakukan pemusatan latihan.

Pelatih Timnas Indoenesia saat ini, Shin Tae Yong, memang memperhatikan sekali perihal kedisplinan menjaga pola makan. Ia memaksa para pemain Timnas untuk tidak memakan gorengan dan makanan bersantan. Bahkan para pemain pun diwajibkan untuk mengirim gambar makanan yang mereka santap setiap hari.

Pentingnya disiplin menjaga pola makanan

Selain dituntut memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan, ketenangan ketika ditekan oleh pemain lawan, serta teknik mengolah bola yang mumpuni, seorang pemain sepakbola profesional pun dituntut untuk bisa disiplin dalam menjaga pola makan. Sikap disiplin dalam menjaga pola makan menjadi salah satu kunci bilamana seorang pemain bola ingin tampil apik lagi konsisten di setiap pertandingan.

Karena kekuatan fisik dan daya tahan tubuh merupakan sebuah hal yang wajib dimiliki oleh para atlet sepakbola di samping pendayagunaan akal, tak pelak kedisiplinan dalam mengatur pola makanan yang dikonsumsi menjadi hal yang mesti diperhatikan. Pasalnya kedisiplinan dalam mengatur pola makan akan berimbas pada performa sang pemain saat berada di atas rumput hijau.

Eks striker andalan Timnas Indonesia di era ’90, Kurniawan Dwi Yulianto mengungkapkan, “sepak bola tidak hanya soal taktik, fisik, dan mental. Tapi juga sport science, gizi makanan yang harusnya sudah mulai sejak kecil sehingga saat besar itu menjadi kebiasaan dan tidak perlu diingatkan lagi,” ujarnya seperti yang dilansir di CNN Indonesia pada tanggal 26 Agustus 2020.

Berdasarkan laman FourFourtwo, setiap pemain membutuhkan nutrisi yang berkualitas agar kuat untuk berlari di sekitar lapangan sepak bola. Oleh karena itu, para pemain sepak bola profesional tidak bisa main-main dalam memilah makanan yang ia konsumsi sebab ini akan berpengaruh pada performa sang pemain, terutama dalam hal stamina dan massa otot.

Ilmuwan olahraga, Armando Vinci pun mengatakan, “nutrisi mempengaruhi segalanya, mulai dari tingkat ketahanan dan kecepatan pemain hingga pemulihan dan pola tidur mereka,” kata ilmuwan olahraga tersebut sebagaimana yang dikutip dalam laman tirto.id.

Kebiasaan buruk para pemain sepak bola Indonesia

Sayangnya kedisiplinan menjaga asupan makanan ini sering kali tidak diindahkan oleh kebanyakan para pemain sepak bola di Indonesia. Itulah mengapa tak mengerahkan bila kita melihat bentuk fisik kebanyakan para pemain sepak bola profesional di Indonesia, bahkan yang saat ini bermain di Liga Satu begitu tidak atletis.

Salah satu contoh dari tidak disiplinnya para pemain sepakbola profesional di Indonesia ialah seperti yang ditunjukan kapten Timnas senior Indoensia, Hansamu Yama, dalam story akun Instagram miliknya. Postingan tersebut memperlihatkan menu makanan berlemak yang hendak disantap sang kapten timnas. Makanan itu tentu jauh dari makanan seharusnya seorang pemain profesional serta dilengkapi dengan dalih “yang penting halal.”

Beberapa pemain sepak bola lainnya pun melakukan hal yang sama. Contohnya seperti gelandang Persib Bandung, Gian Zola yang menyantap makanan pedas. Kemudian bek Bhayangkara FC, Nurhidayat yang ketahuan menyantap makanan berlemak bersama pacarnya, hingga Yakob Sayuri, M Riyandi dan Fachruddin Aryanto yang juga kedapatan menyantap makanan khas daerahnya seusai pemusatan latihan Timnas Indonesia.

Contoh lainnya seperti yang diberitakan di akun Twiter @bonekpedia. Mereka memberitakan dalam tim Persebaya sudah ada juru chef yang mengatur pola makan para pemain, namun sayangnya para pemain Persebaya tersebut lebih sering memilih untuk membeli makan dari Go-food. Miris.

Mantan Dokter Timnas Indonesia U-19, Alfan Nur Asyhar tak terkejut dengan fenomena ketidakdisplinan para pemain sepak bola profesional Indonesia. Ia pun menuturkan tentang para pemain dan pelatih yang kerap ngeyel ketika disuguhkan makanan bernutrisi demi menjaga kondisi tubuh mereka.

Ia mengatakan, “waktu di Timnas, saya kencang itu menerapkan pola makanan harus sesuai standar atlet. Tapi ada pemain dan pelatih yang tak setuju dengan konsep saya. Bahkan dalam tanda kutip kami pun ditentang dan dimusuhi, karena di dalam kepala mereka kan ketika pemain makan yang mereka suka pasti mainnya akan bagus, fighting spirit-nya ada. Itu kan salah. ”

“Ketika pulang dan main di liga pun kondisinya sama. Dibuat makanan standar pun mereka ngga mau, malah ke warteg. Menurut saya kita akan terus berada di level seperti ini. terpuruk terus. Padahal makanan kan akan menetukan kesehatan dan performa mereka,” ujarnya lagi sebagaimana yang dikutip dalam laman detikSport pada 28 Agustus 2020.

Kenyataan ini tentunya amat sangat disayangkan. Pasalnya, asupan nutrisi akan berpengaruh salah satunya pada tahan tubuh. Stamina yang tidak prima akan berimbas pada mandeknya strategi yang diinstruksikan pelatih.

Setiap pemain dalam pertandingan sepakbola dituntut berstamina kuat guna menjaga konsentrasi serta menjalankan strategi yang diminta oleh pelatih. Akan percuma jadinya bila sang pemain paham dengan strategi namun mereka tak mampu menjalankannya akibat sudah terlalu lelah dan hilang konsentrasi.

Tidak disiplinnya para pemain profesional Indonesia dalam menjaga asupan dan pola makan semakin menambah daftar masalah persepakbolaan Indonesia. Selain tentunya masalah lainnya seperti: kekurangan dalam hal infrastruktur yang memadai, korupsi dalam tubuh PSSI, kegagalan dalam mengembangkan bibit-bibit muda, hingga liga dan kinerja wasit yang bikin elus-elus dada.

Bila sudah begini, alasan klise seperti “kami sudah berusaha semaksimal mungkin…” atau “Tuhan belum menghendaki” yang kerap dilontarkan para pemain timnas ketika mengalami kegagalan dalam tiap turnamen sepertinya sudah menjadi usang dan tak layak lagi digunakan. Ini karena mereka pun turut “berjasa” pada kekalahan tersebut musabab sikap mereka yang tidak menjaga pola makan.

Edukasi adalah kunci

Maka dari itu, kesadaran dan edukasi akan pentingnya kedisiplinan menjaga asupan makanan penting diterapkan pada setiap pemain sepakbola Indonesia. Bagaimana mungkin para pemain tersebut bisa berkembang dan mampu mengalahkan pemain-pemain dari negara lain bila melawan diri sendiri perihal kedisiplinan menjaga pola dan asupan makan saja sudah kalah duluan.

Bila keadaan ini terus bertahan tentunya akan berujung pada kualitas persepakbolaan serta kualitas timnas kita yang akan terus tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, Filipina, bahkan Malaysia. Oleh karenanya, dibutuhkan kerjasama yang apik, baik dari pihak klub, pemain, hingga pihak federasi sepakbola Indonesia guna mengatasi hal ini.

Pihak klub tidak boleh bersikap acuh tak acuh atas kondisi ini. Sejatinya, merekalah yang bertanggung jawab atas kondisi fisik dari setiap pemain mereka. Contohnya seperti Bayern Muenchen yang kekar-kekar. Perlu diketahui, sebagian pemain yang saat ini bertubuh kekar di Bayern Muenchen sebenarnya bertubuh kurus di klub sebelumnya, contohnya seperti kasus Leon Goretzka dan Philipe Counthino.

Selanjutnya, para pemain pun tidak bisa tidak untuk segera berbenah dan mulai sadar diri. Mereka harus diberi pemahaman bahwa mereka adalah pemain profesional dan tentunya harus bersikap profesional juga. Mereka tidak boleh bersikap dengan seenak jidat sebab mereka ini sudah dibayar. Karena sudah dibayar maka mereka harus ikut aturan main yang sudah ada.

Para pemain sepakbola Indonesia pun mesti mengubah cara berpikir dalam hal memilah-milah makanan. Mereka harus paham tentang makanan yang mereka konsumsi pasti dan harus berbeda dengan orang-orang yang bukan atlet sebab makanan para pemain sepakbola diperuntukan bagi kepentingan tubuh, bukan sekadar pemuas lidah belaka.

Terakhir, sepertinya PSSI harus berkontribusi langsung guna mengatasi masalah pelik ini. Bentuk kontribusi itu seperti pembentukan aturan mengikat dan tegas pada para pemain agar menjaga pola makannya, serta mencoret nama-nama pemain timnas yang ketahuan makan sembarangan ketika sudah dipanggil menjadi bagian tim Garuda.

Bila kondisi ini tidak segera dibenahi, maka jangan harap persepakbolaan negara ini dapat maju dan mencicipi turnamen piala dunia. Sungguh meyedihkan, di saat banyak suporter yang sudah mendukung mati-matian sang pemain hingga berkorban harta dan nyawa, eh para pemain malah malas dan tidak berjuang habis-habisan. Sungguh tega.

Penulis: M Aqbil

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *