Sejarah Kebakaran Hutan di Australia

William Strutt, Black Thursday, 1864

William Strutt, Black Thursday, 1864

Kebakaran hutan yang sedang terjadi di Australia menyebabkan musnahnya habitat dan nyawa hewan-hewan asli Australia seperti koala, kanguru, berbagai jenis reptil, dan lain-lain. Sebagaimana dilansir Tirto, diperkirakan ada 24 orang yang tewas, jutaan hektar lahan musnah, dan lebih dari 400 juta mamalia, burung, dan reptil menghilang sejak kebakaran ini bermula di bulan September 2019. Termasuk dalam angka tersebut 8.000 koala yang menurut harian India Today sama dengan 30% populasi koala di seluruh Australia Tenggara. Kebakaran juga telah menyebabkan penurunan populasi burung, hewan pengerat, dan serangga.

Australia sudah sangat akrab dengan api. Penduduk asli atau biasa disebut “aborigin” sesekali menggunakan api untuk membersihkan lahan lama atau membuka lahan baru. Tetapi ini biasa dilakukan saat musim hujan dan semua tumbuhan di sekeliling lahan ditebas terlebih dahulu agar api tidak membesar dan menyebar ke sembarang arah. Api juga menempati posisi penting dalam budaya masyarakat aborigin. Hewan-hewan persembahan dibakar di atas batu atau kayu agar para roh, yang menurut kepercayaan mereka tinggal di pohon-pohon tertentu, dapat mencium aromanya. Selain itu, Anne Marie Monschamp, dalam buku Autobiographical Memory in an Aboriginal Australian Community: Culture, Place and Narrative, menceritakan bahwa suku Alyawarra yang tinggal di Australia Utara sangat sering menyalakan api unggun (Monschamp: 2014). Penyebabnya: mereka tidak terbiasa mengenakan baju tebal sehingga api menjadi satu-satunya sumber kehangatan kala cuaca tidak bersahabat. Kendati demikian, tradisi penduduk lokal bukan merupakan penyebab kebakaran ganas seperti sekarang.

Penyebab dan Pendukung

Kebakaran di Australia dapat disebabkan oleh banyak hal. Cnet mewartakan, faktor alami seperti sambaran petir dapat memicu pembakaran. Manusia juga bisa menjadi pelaku seperti dengan membuang rokok sembarangan atau sengaja membakar belukar. Menurut BBC, setiap tahun ada 50.000 sampai 60.000 kebakaran lahan di Australia dengan setengah di antaranya berawal dari kesengajaan. Pada bulan November tahun lalu kepolisian New South Wales menangkap seorang pemuda berusia 19 tahun atas tuduhan membakar hutan dengan sengaja. Sementara itu, di tahun 2017 seorang laki-laki asal Melbourne mengaku membakar banyak pohon dan belukar setelah dikhianati pacarnya.

Keganasan kebakaran Australia juga didukung beberapa faktor lain, seperti kurangnya hujan dan kelembaban tanah yang rendah. Kondisi tersebut memungkinkan api kecil untuk membesar dalam waktu singkat. Ditambah dengan suhu tinggi dan angin kencang yang dialami Australia dalam beberapa bulan terakhir, kebakaran kecil hampir pasti akan membesar. Semua faktor tersebut membuat para pemadam kebakaran harus lebih tanggap dan mengerahkan tenaga ekstra. Sayangnya, tenaga dan jumlah mereka terbatas untuk mengawal api yang setiap jam meluas. Ini memberikan peluang kebakaran untuk membesar dan sulit dipadamkan. Pemerintah Scott Morrison juga dinilai lamban dalam menangani bencana ini.

Sejarah

Kebakaran yang hingga hari ini melanda sebagian besar tenggara dan selatan negara kangguru ini merupakan kebakaran lahan terbesar dalam sejarah. Sebelumnya Australia sudah beberapa kali mengalami kebakaran besar.

Pada Jumat, 13 Januari 1939 kebakaran lahan menyapu negara bagian Victoria, Australia. Lahan dan hutan seluas 2 juta hektare ludes dimakan api dan 1.300 rumah rusak parah. Sedikitnya 71 orang tewas dalam musibah ini. Kebakaran yang kemudian dikenang dengan nama Black Friday Bushfires ini baru dapat dihentikan dua hari kemudian dengan bantuan hujan.

Iklim menjadi salah satu faktor yang memperparah Black Friday. Musim panas di Australia memang terkenal dengan suhunya yang ekstrem. Suhu di Melbourne, ibukota Victoria, tercatat mencapai angka 43,8 °C pada tanggal 8 Januari dan 44,7 °C pada 10 Januari. Di tanggal 13, hari pertama kebakaran, suhu udara melewati 45,6 °C.

Di harian The Sydney Morning Herald tertanggal 14 Januari 1939, penulis Edith Beckett bersyair:

The bushfire came in glory,
A festival of flame;
It danced across the forest,
The victim of its game,
And left the burning branches
Down-crashing in despair.
And blackened tree trunks raising
Their naked arms in prayer
.

(Kebakaran datang dengan suka cita,
Ke festival api;
Dia berjoget di hutan,
Korban dari permainannya,
Dan tinggal ranting-ranting yang hangus
Berguguran dengan sedih.
Dan menghitamkan dahan-dahan yang mengangkat
Tangan kosongnya dalam doa.)

Benua Australia juga pernah mengalami kebakaran yang tidak kalah buruk di abad ke-19. Kekeringan panjang menimpa Victoria dari akhir tahun 1850 hingga awal 1851. Kekeringan ini memancing banyak kebakaran lahan kecil yang kemudian bersatu menjadi besar pada tanggal 6 Februari 1851. Hari itu hari kamis sehingga peristiwa yang begitu menyayat hati ini diberi nama Black Thursday Bushfires. Total korban jiwa mencapai 12 orang, satu juta domba, dan ribuan burung.

Buku Picturesque Atlas of Australasia yang terbit pada tahun 1886 mengabadikan Black Thursday sebagai berikut:

“The temperature became torrid, and on the morning of the 6th of February 1851, the air which blew down from the north resembled the breath of a furnace. A fierce wind arose, gathering strength and velocity from hour to hour, until about noon it blew with the violence of a tornado. By some inexplicable means it wrapped the whole country in a sheet of flame — fierce, awful, and irresistible.” (Andrew Garran et. al.: 1886)

(“Temperatur menjadi sangat panas, dan pada pagi hari tanggal 6 Februari 1851, angin yang datang dari utara menyerupai hembusan dari sebuah perapian. Angin yang sangat kencang datang, kekuatan dan kecepatannya meningkat setiap jam, hingga saat menjelang tengah hari angin itu bertiup laksana sebuah tornado. Dengan caranya yang tidak dapat dijelaskan ia membalut seluruh negeri dengan selendang api — begitu bengis, menakutkan, dan tidak dapat dielakkan.”)

Harapan

Mari kita doakan saudara-saudara kita di sana agar diselamatkan dari musibah ini. Serta lakukanlah apapun yang dapat kita lakukan demi kelangsungan hidup manusia dan alam Australia.

Penulis: M. Irham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *