Sejarah Indonesia adalah Sejarah Kebencian

Ilustrasi: Desakan ke pemerintah untuk tuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM. (Foto: ANTARA)

Ilustrasi: Desakan ke pemerintah untuk tuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM. (Foto: ANTARA)

“Sekarang tampaknya ujaran kebencian itu terjadi begitu hebatnya, sampai – sampai, seakann- akan seorang calon presiden yang bagus adalah presiden yang bisa membenci a,b,c” ungkap Ariel Heryanto dalam sebuah diskusi.

PERISTIWA sejarah di Indonesia tampak semrawut warnai perjalanan negara dari waktu ke waktu. Peristiwa itu berbagai, mulai dari kemerdekaan sampai pembantaian atau munculnya berbagai faktor, terutama politik dan ekonomi.

Jika diperhatikan, yang paling menonjol dalam sejarah merah putih ini adalah kebencian. Sejarah Indonesia ternyata mengajarkan kita untuk membenci warna kulit, agama, faham bahkan identitas dirinya sendiri. Kalau begini, ‘Jas Merah’nya Soekarno seakan hanya basa-basi saja.

Sosiolog dan dosen di Universitas Monash Australia, Ariel Heryanto mengatakan, “kita mulai membenci Belanda karena kolonialismenya; diajak mengarahkan kebencian pada neokolonialisme, liberalisme dan segala hal yang tidak revolusioner oleh Soekarno; diharuskan membenci semua yang dianggap tidak Pancasila oleh Soeharto dan masuk ke dalam kebencian berdasarkan kategori Islam dan tidak/kurang Islam sesudah 1998” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi “Media dalam Politik Identitas” di Jakarta pada 20 Juli 2018.

Kita Diajarkan untuk Rasis pada Belanda

Saat Jepang berada di Indonesia dari 1942 sampai 1945 dengan berpura – pura sebagai saudara tua dan pembebasan Imperialisme Eropa, kita sudah diajarkan membenci terhadap kulit putih. Hal ini menyebar bagaikan virus, pribumi membenci orang barat dan mendukung Negeri Sakura.

Kebencian bangsa kita pada kulit putih dimanfaatkan oleh Jepang, karena mereka adalah blok sekutu yang dimusuhi oleh blok eksis. Zaman itu, kita memang gencar membenci barat dan rela menjadi martir Jepang, terutama pada Belanda yang menjajah.

Menurut sejarawan Jepang, Aiko Kurasawa dalam bukunya Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan Sosial Di Pedesaan Jawa 1942 – 1945, Hitoshi Shimizu melakukan berbagai propaganda saat Jepang menduduki Nusantara. Pada akhir 1945, ia ditangkap sekutu dan mengaku menyebarkan kebencian pada ras kulit putih, terutama Belanda di Indonesia.

Terasa sangat miris, pelajaran pertama kebencian yang diajarkan Jepang berbentuk rasis. Ironinya kita bangga dengan rasisme yang ditularkan turun temurun pada generasi selanjutnya.

Kerja Paksa oleh Jepang bikin Geram

Pelajaran kedua membenci, kita langsung membenci pada pengajarnya, Jepang. Seperti senjata makan tuan baginya, saat penjajahan tahun 40an, kita membenci para samurai modern.

Jepang memang begitu kejam seperti melakukan ‘Romusha’ (kerja paksa versi Jepang). Kerja paksa itu melahirkan kebencian yang semakin hari semakin membesar sehingga api pemberontakan berkobar. Terbukti, pemberontakan pada 25 Febuari 1944 di Singaparna lahir. Pemberontakan itu dipimpin oleh K.H Zaenal Mustafa.

Dalam buku Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang karya Harry J Benda, para santrinya Zaenal Mustafa dipaksa sujud pada matahari untuk menghormati kaisar Jepang. Tentu sebagai pimpinan pondok, ia geram dan membangun perlawanan terhadap Nippon (tentara Jepang) yang menista ajaran Islam.

Selain itu, dalam tubuh milliter bentukan Jepang juga terjadi pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) pada  14 Februari 1945 di Blitar. Pemberontakan itu dipimpin oleh Sodancho Supriadi. Dalam buku PETA Tentara Sukarela Tanah Air di Jawa dan sumatera 1942 – 1945 karya Purbo S. Sisondo, sebagian tentara pribumi angkatan Jepang merasa tertindas dan melihat pribumi diperlakukan layaknya hewan dalam bentuk kerja paksa.

Dari kedua peristiwa tersebut, kita pernah diajarkan membenci pada Jepang. Bentuk kebencian yang dialami terdapat dua hal, yaitu penistaan agama dan penjajahan yang dilakukan Jepang.

Tragedi Madiun Awal Mula Kebencian pada PKI

Berlatar belakang dari perjanjian Renville, Muso pun murka dan merancang pemberontakan di Madiun. Bersama Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso berniat mendirikan Republik Indonesia Soviet (RIS). Pada tahun 1948 pecahlah pertempuran darah antara orang komunis dengan umat Islam.

Menurut Soetarjo dalam bukunya Pemberontakan PKI – Moeso di Madiun, ada tiga alasan PKI memberontak. Pertama, mereka ingin mendirikan negara berlandaskan Marxist-Leninist. Kedua, mereka menentang pemerintahan Soekarno-Hatta. Ketiga, mereka ingin menguasai seluruh Indonesia dengan berpusat di Madiun.

Tragedi berdarah ini menjadi titik dimulainya kebencian pertama umat Islam terhadap komunis. Walau akhirnya PKI harus redup karena pentolannya dihukum mati.

DI/TII Selalu Dikaitkan dengan Terorisme

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ditandai dengan proklamasi yang dikumandangkan Kartosoewiryo di Jawa Barat pada 7 Agustus 1949 silam. Kartosoewiryo bertujuan membentuk sebuah negara dengan dasar dan sistem Islam. Berbeda pandang dengan sahabatnya Soekarno, Kartosoewiryo memilih jalur memberontak.

Dilampir historia.id, Sekitar tahun ’60an, DI/TII di Jawa Barat mendapatkan sebutan ‘gerombolan’, karena selalu membuat teror, sehingga warga sekitar dihantui rasa takut. Kasa bin Sukadma merupakan satu dari sekian banyak korban yang mengalami keganasan serbuan DI/TII. Ia harus kehilangan lengan sebelah kirinya saat menghadapi ‘gerombolan’ masuk perkampungannya.

Pemberontakan DI/TII ini berakhir dengan ditangkapnya imam besar mereka, Kartosoewiryo pada 4 Juni 1962 di Gunung Geber Jawa Barat. Kartosowiryo ditangkap oleh pasukan Siliwangi saat operasi Pager Betis. Penangkapan itu berujung pada eksekusi mati Kartosoewiryo.

Meski demikian, pengikut imam besar DI/TII ini tidak berakhir si sana. Mereka terus bergerilya dengan gerakan bawah tanah. Narasi sejarah kita lagi-lagi mengantarkan generasi selanjutnya untuk membenci pemberontak. Hingga kini, setiap kali ada kasus terorisme, kerap kali nama DI/TII dikaitkan dengan tindak pengeboman.

Kebencian Komunis Dirawat Sejak ’65

Masuk pada peristiwa sejarah yang selalu menjadi perdebatan setiap tahun. Peristiwa pembunuhan para Jenderal pada 30 September 1965 menuai polemik. Meski masih kontroversi, negara mengklaim PKI-lah sebagai dalang dari pembunuhan tersebut.

PKI dituduh tanpa melalui peradilan. Negara pun semakin getol mengabarkan bahwa komunis lah pelaku pembunuhan para Jenderal dengan cara disiksa terlebih dahulu. Propaganda itu masif dikumandangkan melalui berbagai medium, buku sejarah resmi, film, karya seni dan berbagai pertunjukkan.

Dari hal itu pula, sebanyak lebih dari 500 ribu jiwa dibantai tentara. Pembantaian ratusan ribu jiwa itu seolah dilumrahkan lantaran PKI dituduh membunuh Jenderal. Kebencian terhadap komunis pun dirawat hingga puluhan tahun setelah peristiwa itu usai. 

Menurut Vannessan Hearman dalam karyanya Unmarked Graves: Death and Survival in the Anti Communist Violence in East Java, Indonesia, para anti-PKI takut jika PKI akan bangkit dan balas dendam. Maka dari itu, sentimen pada komunis dimunculkan.

Sampai hari ini, kita dipaksa membenci PKI. Ironinya, yang tidak berhubungan dengan komunis, seperti genjer, warna merah dan perkakas yang disilangkan kerap disimbolkan dan menjadi alat tuduhan komunis.

Muslim Kritis Dikebiri Sejak Peristiwa Tanjung Priok 

Peristiwa pada September 1984 di Tanjung Priok, Jakarta Utara adalah titi mangsa kekejaman Orde Baru pada umat muslim. Berangkat dari dirusaknya brosur di sebuah masjid yang berisi kritik pada pemerintah oleh Babinsa, jamaah di masjid itu tersulut. Mereka geram hingga membakar sebuah kendaraan milik tentara.

Dirangkum oleh tirto.id yang ditulis pada 12 September 2019 lalu, tepat pada 11 September, bentrok antara jamaah dengan aparat bersenjata tak terhindarkan. Tercatat, sekitar 1.500 umat muslim terlibat. Menurut data yang dihimpun Solidaritas untuk Korban Tanjung Priok (Sontak), sebanyak 400 umat muslim tewas diberondong timah panas sementara sejumlah lainnya ditangkap dan disiksa aparat. 

Abdul Qodir Djaelani ialah salah satu ustadz yang paling vokal mengkritik. Ia merupakan aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang mengkritik rezimnya melalui mimbar masjid.

Dari peristiwa itu, pendakwah dengan isu kritik pemerintah perlahan meredup. Keganasan Orde Baru seolah mengkebiri kaum agama untuk bersuara lantang. Kebencian terhadap umat muslim yang vokal untuk mengkritik pemerintah pun perlahan terbangun.

Pelanggaran HAM Rezim Soeharto Sulit Dimaafkan

Rezim tangan besi yang berkuasa selama 32 tahun, akhirnya runtuh dengan ditandai aksi demonstrasi besar-besaran pada 1998. Mundurnya Soeharto itu wujud kemenangan bagi masyarakat sipil dan petaka bagi kroni Soeharto. Reformasi dimulai.

Perlahan, fakta otoritarian Soeharto mulai terungkap. Kekerasan terhadap masyarakat sipil mulai berani diungkap ke publik. Kebebasan berpendapat akhirnya bisa dirasakan masyarakat Indonesia. Kebencian terhadap Soeharto pun mulai terbentuk dari generasi ke generasi terkhusus pada gerakan-gerakan mahasiswa.

Pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Soeharto mungkin sulit untuk dimaafkan, bahkan tidak sama sekali. Menurut Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (kontras), mencatat 10 kasus, mulai dari pembantaian PKI, hadirnya petrus, operasi milliter di Aceh dan Papua, dan penculikan aktivis di tahun ’90an.

Sang bapak pembangunan ini sudah membangun kebencian atas ulahnya sendiri. Walau sudah reformasi, pemuja Soeharto dan kontranisnya masih saling maki-maki, baik di diskusi atau media sosial. Itu artinya wajah saling benci masih awet meski dua dekade sudah lewat.

Begitulah historiografi di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk benci membenci terhadap identitas satu dengan identitas lain, dari peristiwa ke peristiwa. Sejarah kebencian ini seolah dirawat dengan mata rantai yang tak pernah berujung kata maaf.

Penulis: Arsyad Fauzi

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *