Sehari Pasca Merdeka, Gerakan Buruh di Australia Bantu Kemerdekaan Indonesia

Indonesian Calling

BULAN Agustus selalu menarik ingatan Indonesia pada tahun 1945. Kemerdekaaan yang disponsori oleh Jepang itu menggema ke seluruh penjuru Nusantara. Namun, menyerahnya Jepang pada sekutu bukanlah satu-satunya alasan Indonesia bisa merdeka.

Film dokumenter “Indonesian Calling” karya seorang filmmaker asal Belanda, Joris Ivens merekam riuhnya gerakan buruh pelabuhan di Australia. Film itu direkam saat detik-detik kemerdekaan Indonesia berkumandang hingga beberapa hari pasca 17 Agustus 1945.

Diluncurkan pada tahun 1946, Joris Ivens mengemas secara nyata bagaimana perjuangan pelaut Indonesia yang melakukan boikot kapal. Berlatar hitam putih, film ini jarang dibahas walau menjadi bukti gerakan komunis Indonesia ikut andil dari tanah Australi.

Film tersebut awalnya menceritakan Tukliwon berpulang ke Indonesia dari pelabuhan negeri koala bersama 1.400 warga Indonesia dengan kapal Esperance Bay pada 13 Oktober 1945. Pemerintah Australia menjamin kepergian mereka dengan menepi di pelabuhan yang tidak dikuasai oleh Belanda.
Sebelum berlayar, E.V Elliot sebagai sekretaris Federal Perserikatan Buruh Pelaut, menyampaikan simpatinya pada kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, Tukliwon berterima kasih kepada seluruh buruh pelabuhan yang melakukan gerakan boikot dan menggaungkan yel-yel “Indonesia Merdeka!”.

Dibalik kepulangan Tukliwon, ada peristiwa penting dalam sejarah pasca kemerdekaan, yakni boikot kapal Belanda. Ia bersama Max Sekantu dan pelaut-pelaut Australia, China dan India melakukan aksi mogok kerja untuk menahan kapal-kapal dengan tujuan ke Indonesia. Usut punya usut, kapal-kapal yang ditahan itu berisi senjata untuk tentara Belanda di Jawa.

Joris Ivens merekam jelas keakraban pribumi dengan bule Australi

Joris Ivens secara natural merekam kegiatan warga Indonesia yang berada di Australia tahun 1945 itu. Orang-orang pribumi Nusantara tampak sudah akrab tanpa sekat dengan masyarakat Australia. Penampilan mereka pun baik wanita Australi maupun pribumi kosmopolitan dan bersifat kedaerahan seperti kebaya. Dalam dokumenter tersebut, seorang ibu berkebaya menggandeng anaknya disapa murah senyum oleh ‘bule’ yang berpakaian modis ala Eropa. Warga negeri kangguru ini sadar betul, orang Indonesia yang berada di sana kala itu merupakan pejuang yang sedang meraih kemerdekaan.

Ketika kemenangan sekutu dan Jepang kalah perang, terjadi pawai yang besar di Martin Place, mereka bertepuk tangan dan menyumbang sekian Poundstreling kepada musisi Indonesia. Walau tidak mengerti bahasa, mereka tetap menikmati musiknya. Namun, yang dipikirkan orang-orang Indonesia bukan soal kampung halamannya, tapi kemerdekaan.

Ketika Soekarno menaiki podium dan rampung membacakan teks proklamasi, warga Indonesia di Sydney berkumpul dan mengumumkan kabar bahagia itu. Mereka bersumpah setia pada Republik Indonesia. Malamnya, dirayakan pula dengan menampilkan tarian ksatria dan putri kerajaan yang usianya lebih dari 1.500 tahun sebelum para imperialis datang. Hal tersebut menandakan, dalam pengasingan pun tidak lupa budaya sendiri. Setelah itu mereka berdansa bersama pasangannya dengan berpakaian rapi saat berpesta.

Awal mula para buruh dermaga lakukan aksi boikot

Pagi hari pada 18 Agustus 1945, dimulai lah rencana pemboikotan. Pemboikotan itu dilakukan lantaran para komunis Indonesia yang berada di Australi mencium adanya gerakan Belanda yang hendak datang kembali ke Indonesia. Mereka mengetahui logistik Belanda berada di pelabuhan-pelabuhan Australia. Tentu pelaut Indonesia menolak mengirim barang untuk menyerang bangsanya sendiri.

Mereka akhirnya menyatakan aksi langsung berupa mogok kerja di pelabuhan, lalu berbondong-bondong meninggalkan dermaga. Dikumpulkan lah berbagai buruh pelaut dan bergabung dengan buruh Australia melakukan konsolidasi. Berbicara dengan semengertinya, mereka membahas gaji buruh yang rendah dan arti penjajahan 350 tahun terhadap Indonesia.

Berita pun menyebar, banyak pekerja dari dermaga lain berdatangan untuk mendengarkannya. Di sinilah warga Australia angkat suara dan menyatakan orang Indonesia tidak boleh berserikat sebelum tiba di pelabuhan. Selain itu, mereka juga menuntut Belanda tidak sesuai dengan Piagam Atlantik kepada Indonesia.

Para buruh pun duduk mendengarkan penyampaian dari beberapa orator dan ada juga yang bersantai sambil bermain kartu. Di sela awal pemogokan, kapal Belanda ingin berangkat dengan dalih hanya membawa makanan dan obat-obatan sebagai pengiriman kemanusiaan. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ada senjata-senjata yang ditemukan oleh buruh dermaga. Jawaban Belanda ngaler-ngidul saat dimintai keterangan oleh Perdana Menteri Australia, Ben Chifley.

Selain senjata, ternyata ada 1.600 tentara Belanda yang akan berlayar ke Indonesia di dermaga Sterling Castle. Beruntungnya, para prajurit yang siap diberangkatkan itu berhasil ditahan oleh aktivis-aktivis buruh Australia yang menghalanginya menggubakan sekoci sambil berteriak “Australia mendukung kemerdekaan Indonesia.”

Berbondong-bondong dukung kemerdekaan Indonesia 

Pejuang dari negeri koala pun menyambut pelaut dari kapal tersebut yang meneukung pemogokan. Peristiwa tersebut juga disaksikan oleh juru bicara pekerja dari Belanda, meski berasal dari Belanda ia juga menyatakan mendukung aksi pemboikotan.

Boikot pun terus berlanjut, Indonesia telah menghubungi pelaut-pelaut di Australia agar bergabung bersama serikat buruh dermaganya dan bersama bangsa lain juga.

Aksi vandal pun mewarnai dinding-dinding jalan di sekitar dermaga. Coretan itu berisi tuntutan-tuntutan aksi. Para pengangukut barang pun sudah menyimpan kunci truknya di saku mereka, tukang cat kapal meninggalkan kuas dan cairan catnya, sementara insinyur serta awak kapal mematikan obor. Negosiasi dilakukan, mereka mau kembali bekerja dengan syarat tidak mengantar senjata-senjata Belanda untuk dikirim ke Indonesia. Negosiasi itu tidak menemui titik kepastian, maka boikotpun berlanjut.

Para buruh dermaga sudah beraksi, dan sudah waktunya para pemimpin angkat suara untuk mendukung Piagam Atlantik. Pandit Nehru dan Jinnah dari India, Manuilsky dan Vshinsky dari Uni Soviet dan Presiden Filipina, Romulo menyatakan sikap protes terhadap pengiriman senjata ke Indonesia.

Dalam pertemuan besar di Domain, Australia, seorang prajurit mengumumkan bahwa Indonesia sudah berdaulat. Seorang orator dari kaum pekerja, Jan Wilanda mengucapkan terima kasih kepada seluruh kaum buruh dermaga atas boikot kapal-kapal Belanda di Australia.

Di kantor Perserikatan Pelaut Indonesia, Tukliwon dan Max Sekantu mendata kapal-kapal Belanda yang sudah ‘dihitamkan’, seperti Verspijck, Van der Lin, Pahud, Tosari, Tasman, Jansen and Bontekoe, Van Swoll, Van Heutsz dan Swarten.

Kapal Swarten sempat lepas berlayar oleh pelaut India yang diseludupkan oleh Belanda. Tukliwon dan beberapa pekerja mengejarnya dengan speedboat dan menyusul sambil berusaha menghentikannya. Mereka menyuruh menghentikan mesin dan bergabung dengan serikat buruh Australia.

Tukliwon bersama kawan-kawannya gagal menghadang kapal tersebut. Namun, pelaut India yang membawa senjata-senjata itu pun tiba-tiba menolak berlayar dan kembali ke dermaga. Mereka mengaku dipaksa dan diancam oleh senapan. Akhirnya mereka semua berkumpul dan berorasi.

Aktivis buruh dari China pun menyampaikan salam Sun Yat Sen untuk perjuangan di pelabuhan Australia dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Usainya, mereka longmarch dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Joris Ivens dianggap penghianat oleh Belanda dan Tukliwon hilang di 1965

Joris Ivens telah berhasil merekam gerakan para buruh dermaga, sehingga menjadi bukti adanya perjuangan pasca kemerdekaan di luar benua. Hal yang sangat sulit melawan penjajah di luar negerinya yang dijajah, namun para pejuang tetap bertahan semaksimal mungkin sampai berhasil.

Perlu diketahui Joris Ivens telah diusir dari Belanda karena dianggap pengkhianat dan hidup secara nomaden di Eropa. Sejak Orde Baru, Ivens dilarang tinggal di Indonesia karena diduga komunis, padahal menurut temannya dari Prancis, Elizabeth Inandiak, ia hanyalah seorang anti fasis yang literaturnya kiri.

Tak lupa dengan sosok ‘peran utama’ Tukliwon, saat pulang ke Indonesia dia membentuk serikat buruh di Tanjung Priok. Riwayatnya tak terdengar lagi sejak 1965. Diperkirakan, Tukliwon menjadi korban pembantaian besar-besaran oleh TNI masa itu.

Film tersebut jarang sekali dibahas, sehingga dokumenter ‘Indonesia Calling’ terdengar asing. Selain itu, perjuangan mereka begitu terorganisir dan rapih hingga mendapatkan simpati dari berbagai bangsa.

Film ini ada di kanal Youtube. Sangat recomended menjadi tontonan di bulan nasionalis ini!

Penulis: Arsyad Fauzi

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *