Refleksi Pancasila dan Persatuan Umat

SEJARAH Pancasila merupakan sejarah perjuangan founding fathers dan bukti nyata dari upaya mereka mencapai kemerdekaan Indonesia. Mereka merumuskan lima asas penting sebagai dasar negara bukan secara sembarangan, melainkan dengan kontemplasi mendalam demi berlangsungnya Negara Indonesia yang berperadaban dan berbudaya.

Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu Pancasila ini bagaikan dua mata uang yang saling bersilangan. Di satu sisi, ia berhasil dihafal oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Tetapi di sisi lain, ia belum teraplikasi sepenuhnya sebagai pedoman hidup bernegara.

Alasan mengapa hal ini bisa terjadi mungkin karena tidak adanya penjiwaan terhadap Sejarah Pancasila itu sendiri.

Minimnya pengetahuan masyarakat tentang Sejarah Pancasila mungkin saja menyebabkan sedikitnya nilai Pancasila yang terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat meskipun mereka menghafal isi dari Pancasila itu sendiri.

Jika kita menyadari, hampir seluruh rakyat Indonesia sangat akrab dengan setiap bait dari lima asas dasar negara yang selalu dibacakan dalam setiap perayaan hari besar itu. Ditambah lagi, hampir seluruh jenjang pendidikan formal mulai dari sekolah dasar hingga atas memiliki kurikulum yang mengajarkan apa sebenarnya Pancasila dan nilai-nilainya.

Tetapi sayangnya, Pancasila belum teraplikasi dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia sebagai falsafah hidup bermasyarakat.

Sebagian besar rakyat Indonesia yang hafal Pancasila itu tetap mendiskriminasi agama,ras dan suku yang berbeda. Tetap acuh kepada saudaranya yang kesulitan dan bahkan seringkali konflik dan kekisruhan mewarnai kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang berdasar kepada Pancasila.

Contoh sederhana misalnya, kita melihat bahwa hari ini politik kita diwarnai saling menjatuhkan, saling sering dan saling mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok. Hal ini bertolak belakang dengan sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Padahal, lima dasar ini memiliki sejarah yang panjang yang tidak dapat dijelaskan dengan rinci pada tulisan ini.

Para founding fathers seperti Soekarno atau Moh. Yamin mungkin akan bersedih jika menyaksikan keadaan yang terjadi sekarang, mengingat merekalah dua orang yang merumuskan dasar negara kita.

Di tahun 1945, mereka berjuang untuk memikirkan bagaimana seharusnya bangsa ini berpedoman. Bulan Juni 1945, menjadi sebuah awal dari lahirnya dasar negara kita.

Ia lahir lewat perdebatan panjang dan kritis oleh para pejuang kemerdekaan. Ia juga lahir dari keikhlasan berbagai lapisan masyarakat yang berbeda untuk berkomitmen menjadi satu negeri yang merdeka.

Sebagai contoh, Muslim di Indonesia berbesar hati menerima bahwa sila pertama yang sebelumnya adalah “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Para Pemeluknya” dan diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga terkesan bahwa Islam tidak berperan secara signifikan dalam upaya kemerdekaan.

Hal ini diterima oleh kaum Muslimin demi terciptanya persatuan Indonesia yang damai.
Bukan hanya itu, sila kedua, ketiga, keempat dan kelima juga lahir dari proses yang panjang. Sila kedua lahir dari persamaan nasib orang-orang yang terjajah selama 350 tahun dan niat untuk menyetarakan kedudukan di hadapan setiap bangsa.

Bung Karno berfikir bahwa rakyat Indonesia tidak boleh direndahkan dihadapan bangsa manapun, sehingga 1 Juni 1945 ia merumuskan sila kedua yaitu “perikemanusiaan”.

Sila ketiga menandai komitmen Bung Karno dan berbagai tokoh lain untuk menyatukan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa di bawah pemerintahan yang berdaulat, sehingga kekisruhan yang mengganggu persatuan terminimalisir lewat komitmen “Kebangsaan” ini.

Sila keempat berasal dari buah fikiran Soekarno dan Moh. Yamin yang merasa bahwa Indonesia bukan didirikan oleh satu, dua atau tiga orang melainkan oleh berbagai lapisan masyarakat. Sehingga “Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” adalah kata lain dari Demokrasi yang dipandu oleh Rasionalisme akal sehat dan disalurkan lewat Badan Permusyawaratan Rakyat.

Dan terakhir sila kelima adalah manifestasi dari cita-cita Soekarno memperjuangkan kesetaraan ekonomi rakyat Indonesia dan menghapus kapitalisme.

Lima sila ini terintegrasi menjadi Pancasila atau lima dasar yang diharapkan terimplementasi dalam kehidupan berwarga negara di Indonesia.

Sebagai penutup, Pancasila seharusnya bukan hanya menjadi bahan hafalan atau satu rutinitas yang harus dibacakan setiap hari senin, melainkan juga harus dijadikan sebagai pedoman berwarga negara. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi, kericuhan dan berbagai konflik lainnya.

Dan jika nilai Pancasila berhasil terimplementasi, kemungkinan besar Indonesia akan menjadi negara yang kuat, berdaulat dan berkeadilan. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan memaknai sejarah Pancasila itu sendiri.***

Penulis: Rendy Kurniawan

Editor:  Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *