Menyusur Makam Kehormatan Tentara Belanda di Cimahi

TIDAK ada habisnya pembahasan sejarah di Kota Cimahi. Sepetak lahan seluas dua hektare milik kerajaan Belanda masih membentang di bagian selatan Kota Cimahi.

Tepatnya di belakang pemakaman umum Leuwi Gajah, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, lahan tersebut adalah makam kehormatan tentara Belanda atau yang biasa dikenal Ereveld Leuwigajah.

Makam yang diresmikan 20 Desember 1949 itu menandakan ada sejarah yang menarik untuk dibahas.

Di pintu masuk ke wilayah Kerajaan Belanda di Cimahi tersebut, kita dihadapkan dengan gerbang hitam berlambang Groot Rijkswapen atau Lambang Agung Kerajaan Belanda. Di atasnya tertulis Ereveld Leuwigajah.

Setelah melewati gerbang, mata kita akan ditujukan pada ribuan nisan dengan berbagai simbol keagamaan yang diselimuti rumput hijau serupa karpet yang dibentangkan.

Dari ribuan nisan, ada beberapa nisan bertuliskan onbekend atau jenazah tidak dikenal.

Ketua KomunitasĀ TjimahiĀ Heritage, Machmud Mubarok menjelaskan, terdapat sebanyak 5400 jenazah dimakamkan di Erevald Leuwigajah tersebut.

“Ada beberapa makam kehormatan tentara Belanda di Indonesia, tapi yang terbanyak ya di Cimahi,” ujar Machmud kepada Media Peradaban, Sabtu (20/4/2019).

Jenazah yang ada di makam tersebut kata Machmud, kebanyakan tentara belanda atau KNIL yang meninggal di Indonesia pada tahun 1942-1945 masa pemerintahan Jepang di Indonesia.

“Banyak orang Belanda yang ditawan oleh pemerintahan Jepang, kemudian dimasukkan dia ke kamp kamp penjara,” sambungnya.

Di dalam penjara, tentara Belanda yang ditawan tidak mendapat perlakukan baik. Tidak diberi makan, disiksa hingga tidak sedikit yang meninggal dunia karena tidak kuat bertahan hidup.

Saking laparnya, tawanan yang berada di kamp berinisiatif menggunakan biang air kencingnya untuk membuat roti. Dengan cara diendapkan beberapa waktu lalu diolah hingga menjadi roti. Tidak hanya roti berbiang air kencing, tikus liar dibangunan pun disantap demi bertahan hidup di dalam kamp.

“Kemudian mereka-mereka yang meninggal di kamp ini biasanya tidak langsung (dimakamkan) ke Ereveld. Tapi ke kuburan lain dulu dekat kamp tahanan,” kata Machmud.

Barulah setelah Jepang menyerah tahun 1945, sekutu masuk dibonceng NICA oleh belanda. Kemudian Belanda mulai menyelamatkan tahanan yang masih di dalam kamp.

“Lalu mereka yang sudah meninggal kemudian kuburannya dipindahkan ke Ereveld ini dari makam yang berada dekat dengan kamp agar terpusat,” paparnya.

Pada awalnya, makam kehornatan Ereveld ini tersebar di beberapa kota di luar pulau Jawa. Namun pada tahun 1967, tebtara Belanda korban perang tersebut yang dimakamkan di Muntok, Padang, Tarakan, Medan, Palembang dan Balikpapan dipindahkan ke pulau Jawa salah satunya Cimahi ini.

“Karena, jika tidak dipindahkan, tanahnya juga kan jadi nanti jadi tanah Belanda. Supaya tidak ada lagi hibah-hibah ke belanda, maka di pindah makamkan ke pulau Jawa agar lebih terpusat,” jelas Machmud.

Lahan pemakaman di pulau Jawa sendiri lantas dihibahkan ke Kerajaan Belanda pada masa pemerintahan Soeharto. Maka, status kepemilikan lahan Ereveld di seluruh Indonesia merupakan milik Kerajaan Belanda.

“Jadi kalo kita melewati gerbang Ereveld itu kita sudah berada di wilayah belanda. Gak usah bawa paspor jauh-jauh ke Amsterdam, ke sini saja kita sudah masuk Belanda,” candanya dengan sedikit senyum.***(Bagus Fallensky/Peradaban)

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *