Menyebalkan! Negara Kita Gak Bisa Bercanda

Bukti Nyata dari Kelakar Lama Warkop DKI

BERCANDA sering ditunjukkan sebagai ekspresi seseorang untuk meluapkan emosi yang sedang dialaminya. Mau itu senang, sedih, bimbang, geram atau perasaan tak karuan sering di ekspresikan dengan cara bercanda. Bercanda pun acap kali dijadikan oleh beberapa orang sebagai alat untuk mengkritik sesuatu yang dianggapnya janggal atau tidak sesuai dengan semestinya. Akan tetapi, upaya kritik melalui bercanda tidak selamanya dapat di terima oleh semua orang, khususnya orang-orang yang duduk di bangku pemerintahan.

Beberapa waktu kebelakang, sosial media khususnya Twiter, sempat digegerkan dengan tagar #Bintangemon. Tagar itu berisi cuitan pembelaan dan juga hujatan terhadap aktor stand up comedy. Bintang Emon ramai diperbincangkan warga net lantaran dirinya mengunggah video komedinya yang berisi kritikan terhadap hasil dari proses hukum kasus novel baswedan. Video yang diunggah di akun instagram miliknya itu berdurasi 1 menit 40 detik.

Akibat dari video yang diunggahnya, Bintang mendapati pesan balasan berupa cuitan dari akun buzzer yang menuduh dirinya sebagai pemakai narkoba. Sehingga, tagar #Bintangemon bertengger di barisan trending Twitter.

Buzzer merupakan sebuah akun di media sosial yang sengaja dibuat oleh pemerintah untuk mendukung dan memenuhi keinginan mereka. Selain itu, Bilven Sandalista dalam akun twiternya @sandalista1789 mengatakan bahwa buzzer merupakan anjing-anjing penggonggongnya para pemerintah.

Selain Bintang emon, belum lama ini Ismail Ahmad di tangkap pada Jumat (12/06/20). Ismail ditangkap lantaran mengunggah guyonan lama mantan Presiden Indonesia, Abdurahman Wahid atau Gusdur, tentang tiga polisi jujur.

Sebelum ditangkap, Ismail Ahmad mendapati pesan WhatsApp dari Sekretaris Daerah Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara untuk segera menghapus unggahannya. Tanpa banyak mempertimbangkan Ahmad langsung menghapus unggahannya. Namun tak lama kemudian, Ahmad didatangi oleh tiga petugas kepolisian tanpa seragam. Yang bikin mengernyitkan dahi, Ismail digelandang ke Mapolres Kabupaten Kepulauan Sula tanpa surat tugas dan tanpa prosedur penangkapan yang jelas.

Setelah di tangkap Ismail ditanyai soal maksud dari unggahannya dan diminta untuk membuat permohonan maaf kepada pihak kepolisian. Aparat rambut cepak itu beralasan, permohonan maaf harus dilakukan Ismail agar warga net tertib dalam bermedia sosial.

Permohonan maaf yang diminta oleh kepolisian tidak sepatutnya dilakukan. Karena bercanda bukanlah sebuah kesalahan dan merupakan hak berekspresi setiap individu. Apalagi Ismail Ahmad hanya sekadar mengutip perkataan mantan wakil Presiden kita.

Dari dua kasus di atas dapat membuktikan bahwa kelakar lama warkop DKI “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” telah terbukti nyata. Selain itu dengan adanya kedua kasus di atas menunjukan pula selain mengalami krisis karena pandemi, negara ini juga dilanda krisis bercanda.

Menggemaskan memang, bercanda saja bisa dikebiri. Tindakan intimidasi oleh aparat dan pemerintah kepada Bintang dan Ismail adalah bukti bahwa negara kita gak bisa diajak bercanda.

Penulis: Haikal Abrori

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *