Membaca COVID-19 dari Buku Sampar Karya Albert Camus

Albert Camus

Albert Camus

AKHIR-akhir ini, masyarakat dunia tengah disibukkan oleh wabah virus corona (COVID-19). Pola bermasyarakat seluruh dunia pun terpaksa harus beru bah demi mengantisipasi terpaparnya virus mematikan itu.

Hingga saat ini, belum ada satupun peneliti yang mampu membuktikan dari mana datangnya virus asal Wuhan China itu. Meski demikian, pengamat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mempredikisi puncak COVID-19 bakal terjadi di akhir bulan Maret dan akan surut di pertengahan bulan April.

Namun, tak ada yang tahu dari mana virus mematikan ini datang dan kapan virus ini berakhir. Buku ini menarik untuk bacaan kawan-kawan yang sedang #dirumahaja.

Hal menarik yang akan kita dapatkan jika membaca karya Albert Camus dari Perancis yang satu ini adalah esensi dari kehidupan yang ia deskripsikan. Di dalam La Peste dalam Bahasa Perancis atau Sampar dalam Bahasa Indonesia, ia memberikan pemahaman tentang kehidupan dengan menggambarkan keadaan manusia yang dikurung oleh wabah penyakit epidemi sehingga mau tidak mau membentuk solidaritas tanpa disadari. Meskipun karya ini telah berumur lebih dari setengah abad, melihat apa yang digambarkan oleh Camus nampaknya masih relevan untuk kita bahas di hari ini.

Dalam Sampar kita akan menyaksikan pagelaran manusia ketika harus menghadapi sesuatu di luar kuasanya. Karya Camus ini bukanlah novel tentang sebuah petualangan hebat atau kisah heroik seorang tokoh pahlawan, melainkan satu fiksi tentang kepahitan hidup yang sangat mungkin kita hadapi di dalam kehidupan sehari-hari.

Diterjemahkan oleh N.H. Dini yang cenderung pandai dalam menulis dan nampaknya memahami betul kebudayaan Perancis, Sampar versi Indonesia mengajak kita untuk sejenak merenungkan arti hidup. Mengambil latar belakang di sebuah kota bernama Oran, buku dengan 386 halaman ini akan membawa kita mengarungi realitas hidup seorang dokter bernama Bernard Rieux dalam menghadapi wabah epidemi.

Dengan penuh perasaan, tulisan ini menggambarkan ketidakberdayaan dan keputusasaan seorang dokter ketika epidemi ini perlahan menyebar di kotanya. Dokter Rieux tidak mencoba menjadi orang suci ketika berurusan dengan penyakit ini. Ia digambarkan persis seperti orang normal yang menghadapi bencana. Dalam kasus wabah epidemi, ia hanya bisa melakukan diagnosis dan memvonis apakah pasiennya terjangkit wabah dan harus dikarantina ataukah disingkirkan.

Di dalam Sampar, dokter tersebut digambarkan sebagai manusia biasa yang mencoba melaksanakan profesinya sebisa mungkin. Penggambaran kemanusiaan dokter Riex digambarkan secara alami lewat bagaimana ia ketika kehilangan sahabatnya bernama Tarrou yang harus meninggal ketika epidemi sampar telah berangsur-angsur hilang dan istrinya yang meninggal di luar kota Oran. Meskipun kesedihan memenuhi dada dokter Rieux, penggambaran perasaan dokter cenderung tidak dramatis dan sesuai dengan realitas yang ada.

Selain tentang dokter, kondisi masyarakat umum kota Oran juga digambarkan dengan penuh perasaan. Mereka yang harus terpisah dari pasangan-pasangannya di luar kota yang tidak terjangkit epidemi, mereka yang tidak bisa berkumpul bersama keluarga karena karantina wabah epidemi sekaligus mereka yang hatinya tersayat-sayat oleh meninggalnya orang-orang kesayangan yang hidup bersama digambarkan dengan tidak berlebihan, sesuai realitas dan cukup menyentuh.

Dengan kondisi semacam ini, epidemi telah mendorong orang-orang untuk bahu-membahu bertahan hidup dalam kurungan sampar. Sehingga, secara tidak sadar solidaritas lahir karena kesamaan nasib.

Selain bercerita tentang kepahitan hidup dalam kurungan epidemi, para kritikus sastra memprediksi bahwa buku ini merupakan gambaran Perancis ketika dicengkram oleh ganasnya pendudukan Nazi ketika Perang Dunia II berlangsung. Asumsi ini lahir karena karya ini terbit di tahun 1947, dua tahun setelah perang tersebut berakhir.

Selain fakta penerbitan tersebut, Camus pernah mengungkapkan bahwa jumlah epidemi sampar dan perang yang terjadi sepanjang sejarah umat manusia nampaknya memiliki jumlah yang seimbang. Namun, keduanya selalu menyergap tanpa disadari oleh manusia. Dengan cerita dan pesan yang diantarkan sekaligus, wajar jika buku ini layak untuk dibaca berbagai kalangan.
Meskipun begitu, sudut pandang dari karya ini cenderung membingungkan.

Seluruh bagian cerita dikemas dengan penggunaan orang ketiga. Akan tetapi di bagian akhir cerita, dijelaskan bahwa dokter Rieux lah yang menuliskan karya tersebut, sesuatu yang membuat kita bingung sebagai pembaca. Hal ini karena diksi dan seluruh gaya menulis dari Camus dalam Sampar ini mengambil bentuk orang ketiga.

Di luar hal tersebut, Sampar yang diterbitkan oleh Pustaka Obor ini sangat direkomendasikan sebagai renungan hidup.

Penulis: Rendy Kurniawan

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *