Korban Pelecehan Seksual: Kampus Belum Aman Perempuan

Media Peradaban – Salah satu tuntutan dari massa aksi International Womens Day (IWD) adalah menuntut keamanan ruang-ruang akademik yang ada di kampus bagi perempuan. Pasalnya, sampai saat ini, ruang-ruang tersebut masih jauh dari kata aman. Para pelaku pelecehan di lingkungan itu diduga dilakukan oleh oknum dosen dan mahasiswa.

Bahkan, para pelaku masih bisa berkeliaran dengan aman. Hal ini dituturkan oleh Sesilia, seorang Penyintas dari kampus UNJANI.

“Masih sangat belum aman, jauh dari kata aman, kenapa saya ngomong kayak gitu, karena apa ya, selain aktivis, dosen-dosen pun ngelakuin kok, dan tetep aman-aman aja,” ungkap Sesil saat ditemui di Gedung Sate, Minggu (8/3).

Bentuk-bentuk pelecehan yang sering ditemui Sesilia, biasanya adalah pelecehan verbal dan pelecehan fisik.

“Bentuknya macem-macem ada yang secara fisik, kayak yang nyolek-nyolek aja, ada yang verbal seperti cat calling.”

Sesilia pun mengaku, bahwa dia pernah menjadi salah satu korban dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh kawan sekampusnya.

“Aku tuh dilecehin sama salah satu aktivis kampus, walaupun kejadiannya bukan di kampus sebenarnya. Saya tuh dilecehin di rumah sakit, waktu ngejagain temen saya bareng orang itu (pelaku). Tiba-tiba dia nyosor waktu saya lagi tidur, dia langsung meluk saya, dia berusaha nyium leher saya, di situ saya langsung teriak, bangun. Langsung saya bilang “apa sih”, di situ saya langsung pulang” ujar Sesil.

Tak hanya dirinya, ternyata kawan-kawannya pun pernah mengalami kejadian serupa. Ia pun sempat mengajak mereka untuk speak up. Namun niatnya urung karena korban lainnya tak mau, dengan alasan mempertimbangkan nama baik berbagai pihak.

Kejadian itu membuat Sesilia ketakutan, bahkan ia sempat enggan untuk kembali ke kampus selama dua bulan.

“Sampe saya tuh takut ke kampus selama dua bulan, akhirnya saya mikir, its not my fault, saya korban di sini, saya dilecehkan,” sebutnya.

Menurut Sesilia, pemicu kejadian itu tentu bukan karena pakaian yang dikenakan olehnya. Tapi hal itu menurutnya, murni dari isi pikiran sang pelaku. Kemudian, ia mengajak setiap korban pelecehan seksual untuk berani dan jangan pernah takut speak up.

“Bukan masalah baju atau apapun, ya kalau dia otaknya cabul ya cabul aja. Dan ternyata bukan hanya saya korbannya, tapi banyak, cuma mereka gk berani buat speak up. Masalahnya itu,” kata Sesil

Dia menekankan, agar para korban tidak takut mengungkap pelaku kejahatan seksual. Sebab baginya, jika korban terus bungkam, kekerasan seksual bakal terus berlanjut.

“Kalian punya hak dan otoritas terhadap diri kalian sendiri, terhadap badan kalian sendiri, gk ada yang boleh menyentuh diri kalian tanpa seizin kalian. Jangan takut, I’m here, we’re here, to support you,”
imbuhnya.

Sesilia menuturkan seharusnya kampus bisa bersikap tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Bukan karena nama baik hingga akhirnya kasus-kasus tersebut mesti dibungkam. Bahkan ia menegaskan, jika nama baik kampus ingin dijaga, maka lingkungan kampus mestinya aman bagi perempuan.

“Ya, (kampus) harus ambil sikap sih. Kalau kampus ngomong menjaga nama baik kampus, oknum-oknum seperti itu harus dikeluarkan, entah itu dosen, entah itu aktifis, entah itu siapapun yang di lingkungan kampus yang melakukan perbuatan pemerkosaan atau pelecehan,” ucapnya.

“Ya ngapain nyimpen sampah sama bangke (para pelaku) di dalem kampus. Kayak gitu sih,” tandasnya.

Penulis: Raja Cahaya Islam

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *