Empat Penemuan Terbesar Peradaban Tiongkok

Kompas dari Peradaban Kuno Tiongkok

Kompas dari Peradaban Kuno Tiongkok

Semua lampu di stadion tiba-tiba mati. Yang terlihat tinggal nyala layar ponsel di tangan beberapa orang. Di tengah suasana gelap itu, layar besar di tengah tribun menampilkan sekumpulan pria berusia 40-50 tahun berpakaian serba putih sedang membuat lembar-lembar kertas. Mereka melakukannya dengan teknik tradisional khas Tionghoa. Kertas yang sudah jadi kemudian diolesi tinta hitam yang dengan kemahiran dua orang lelaki Tiongkok membentuk sketsa dua bukit dan sawah yang luas. Kertas bersketsa itu lalu digulung dan layar dimatikan. Yang muncul kemudian adalah sebuah gulungan raksasa di tengah lapangan yang setelah dibuka menampilkan empat orang berkostum serba hitam yang menari bak kuas saatsedang melukis.

Begitulah gambaran salah satu penampilan seni pada malam pembukaan Olimpiade Beijing 2008. Penampilan tersebut menggambarkan kertas sebagai salah satu peninggalan terpenting Peradaban Tiongkok. Di samping kertas, ada tiga benda lain yang dimasukkan ke dalam “Four Great Inventions (Empat Penemuan Besar)”. Apa saja keempat penemuan tersebut?

Kompas

Kompas pertama kali ditemukan lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Kompas awalnya dibuat dengan besi magnetik alami di masa Dinasti Han. Penggunaan kompas untuk kepentingan navigasi baru dimulai pada masa Dinasti Song (960-1279 M), seperti disebutkan oleh Shen Kuo. Kompas kemudian dibuat dengan jarum yang mendapat gelombang magnet dengan digosokkan ke batangan besi yang telah termagnetasi. Kompas model inilah yang jamak digunakan di Eropa pada Abad Pertengahan sebagaimana disebutkan agamawan asal Inggris, Alexander Neckam (1157–1217 M).

Sedangkan pada Peradaban Islam, penggunaan kompas pertama kali disebutkan dalam sebuah buku hikayat berbahasa Persia yang terbit di sekitar tahun 1230 M. Jarum bergelombang magnetik yang diletakkan di atas air yang tenang juga dapat digunakan sebagai kompas. Demikian disebutkan Baylak al-Qibjaqi di tahun 1282 dalam . Dia menggunakan mangkok berisi air dan sebilah jarum untuk keperluan navigasi saat bepergian Suriah ke kota Iskandariyah di Mesir 40 tahun sebelum menulis . Al-Qibjaqi juga mencatat bahwa pelaut di Samudera Hindia sudah terbiasa menggunakan kompas. Pada dekade 1290-an, penguasa Yaman, Al-Asyraf Umar bin Yusuf menjelaskan penggunaan kompas sebagai penentu arah kiblat. Namanya disebutkan dalam The Biographical Encyclopedia of Astronomers sebagai orang Islam pertama yang memaparkan kompas dan penentuan kiblat secara saintifik.

Mesiu

Saat para kimiawan Taois mencari formula untuk mendapatkan hidup yang abadi, mereka bermain-main dengan Sulfur (S) dan Kalium Nitrat (KNO3). Mereka begitu terkejut saat menemukan bahwa kedua bahan tersebut sangat eksplosif. Selama beberapa tahun percobaan ini sangat berbahaya dan banyak menemui kegagalan karena kimiawan zaman itu sama sekali tidak mengetahui kadar yang tepat. Tetapi percobaan untuk mencari kekekalan hidup itu tetap berlanjut berkat sokongan dana dari banyak penguasa, seperti Kaisar Wu dari Dinasti Han, hingga ada hipotesis yang menyebar luas bahwa komposisi yang tepat adalah 10% Sulfur dan 75% Kalium Nitrat.

Di akhir Abad ke-3 M, seorang filsuf bernama Ge Hong menuliskan percobaan-percobaan yang pernah dia lakukan dengan campuran sendawa (Kalium Nitrat), resin cemara, dan batu bara. Percobaan itu menghasilkan ledakan. 300 tahun kemudian, sebuah teks Taois berjudul Zhenyuan Miaodao Yaolue memperingatkan bahaya mesiu: “Beberapa orang membakar ramuan sulfur, arsenik disulfat, sendawa, dan madu; asap dan api dihasilkan, sehingga tangan dan wajah mereka terbakar, dan bahkan seisi rumah hangus.”

Para kimiawan menyebut mesiu dengan nama huoyao (obat api) dan nama ini tetap digunakan di Tiongkok sampai hari ini untuk mengenang sejarah panjangnya sebagai obat penangkal kematian. Mesiu baru digunakan sebagai senjata di Abad ke-10 oleh Dinasti Wu. Penemuan tersebut dengan cepat diadaptasi Dinasti Song dan sejak dekade 970-an mereka sudah mempunyai banyak varian panah dan tombak yang dilengkapi kantong-kantong mesiu. Sedangkan penggunaan mesiu di laut pertama kali dicontohkan oleh Song di Abad ke-12, tepatnya saat mereka melawan Dinasti Jin.

Dinasti Mongol, yang menaklukkan Dinasti Song di tahun 1279, menyebarkan mesiu ke Timur Tengah dan Eropa. Antara tahun 1240 dan 1280, Hasan Al-Rammah mencatat resep pembuatan mesiu dan penggunaannya dalam pertempuran. Hasan sendiri menyebut sendawa – bahan utama mesiu – dengan tsalj ash-shin (salju Tiongkok). Dinasti Osmani sangat sering menggunakan mesiu dalam meriam-meriam berukuran besar buatan mereka sejak akhir Abad ke-14. Sejak saat itu, bagi orang Eropa, Turki, dan Persia, mesiu dan meriam adalah pasangan serasi yang harus selalu hadir dalam tiap peperangan. Sedang di masa sekarang, mesiu lebih sering digunakan untuk petasan dan kembang api. Penggunaan mesiu untuk keperluan militer sudah digantikan oleh nitrogliserin dan nitroselulosa sejak Abad ke-19.

Kertas

Di masa Dinasti Shang (1600–1050 SM) dan Zhou (1050–256 SM), data-data penting lumrah dicatat di atas tulang hewan atau bambu. Saat jumlah dokumen semakin bertambah, orang Tiongkok kesulitan mengangkutnya karena sifat dua bahan tersebut yang tidak ringan. Kadang-kadang sutra juga digunakan sebagai medium tulisan, tetapi harganya yang mahal membuat sutra tidak menjadi solusi terbaik.

Di masa Dinasti Han (206 SM-220 M), seorang pegawai sipil bernama Cai Lun (± 50-121 M) memperkenalkan metode produksi kertas dari serat tumbuhan, seperti bambu, dengan bantuan kain bekas dan alat-alat lain yang mudah didapat dari alam sekitar. Tetapi beberapa sejarawan berpadangan bahwa penggunaan kertas sebagai medium tulis-menulis sudah berlangsung berabad-abad sebelum Cai Lun. Sehingga barangkali akan lebih tepat jika dikatakan bahwa kontribusi Cai Lun ialah memperbaiki proses pembuatan kertas menjadi lebih sistematis dan saintifik, serta menetapkan resep pembuatan kertas yang terus dilestarikan hingga 2.000 tahun kemudian.

Buku Hou Hanshu merekam bahwa setelah ditemukan oleh Cai Lun, pemakaian kertas tersebar dengan cepat dan disebut dengan nama Marquis Tshai di seluruh Tiongkok. Nanti, setelah teknik percetakan dipopulerkan di masa Dinasti Song, permintaan pasar terhadap kertas melonjak naik. Pada tahun 1101, 1,5 juta lembar kertas di kirim ke ibukota Kekaisaran Tiongkok.

Percetakan

Menurut tradisi lisan di Tiongkok Selatan, pada dekade 480-an, seorang laki-laki bernama Gong Xuanxuan mengaku bahwa suatu makhluk halus telah memberinya sebuah batu yang dapat digunakan untuk menulis. Batu itu dapat menggantikan kuas dan pensil untuk membentuk abjad-abjad di atas kertas. Dia kemudian menggunakan kemampuan spesial tersebut untuk menipu gubernur setempat. Gong berhasil. Sayangnya, setelah gubernur tersebut mangkat dan digantikan orang lain, Gong ditangkap dan dihukum mati.

Kepopuleran teknik percetakan banyak didorong oleh Budha aliran Mahayana. Menurut pemeluk Mahayana, teks agama mengandung kekuatan spesial karena membawa ucapan Sang Budha dan kisah-kisah tentang kebesarannya. Teks agama itu banyak digunakan dalam ritual ibadah dan sebagai jimat untuk mengusir setan. Sejak saat para pemeluk Budha mengenal percetakan di abad ke-7 M, mereka beramai-ramai memakainya. Salah satu teks dari masa itu adalah Wugou Jingguang da Tuoluoni Jing (Mantra Agung dari Cahaya Suci yang Tak Tertandingi) yang ditemukan di kota Xi’an.

Dari Tiongkok, tradisi cetak dengan cepat menyebar ke Korea dan Jepang. Teks Muggujeonggwang Daedharanigyeong dicetak antara 704 dan 751 M. Jepang mulai mencetak teks agama sejak dekade 770-an M. Atas perintah Ratu Shotoku, satu juta salinan kitab (saat itu berbentuk gulungan) kumpulan doa Budha diproduksi dalam kurun enam tahun. Menurut Steven R. Fischer dalam A History of Reading, inilah proyek percetakan terbesar pada masa pra-modern.

Konsep Four Great Inventions berpengaruh sangat besar di Tiongkok dewasa ini. Ini dibuktikan dengan penampilan di malam pembukaan Olimpiade di atas. Orang Tionghoa bangga mempunyai sebuah peradaban yang maju dalam bidang sains dan punya sumbangsih besar bagi dunia modern. Ironisnya, konsep tersebut tidak berasal dari pena orang Tiongkok sendiri. Sejarawan dan kimiawan asal Inggris, Joseph Needham, yang pertama kali mempopulerkan istilah Four Great Inventions. Paling tidak sampai hari ini, Tiongkok layak mengucap banyak terima kasih kepada orientalis macam Needham.

Penulis: M. Irham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *