Dewi Soekarno dan Pelarangan Buku Dewi Syuga di Indonesia

Foto: Ratna Sari Dewi dan Soekarno

Foto: Ratna Sari Dewi dan Soekarno

Madame D Syuga merupakan buku yang mengabadikan sejarah hidup Dewi Soekarno melalui potret kemolekan tubuhnya. Sayangnya, sejak peluncurannya pada tahun 1993, buku yang dianggap sebagai limpahan seni dirinya tersebut mendapat kecamanan bahkan pelarangan di Indonesia.

Ratna Sari Dewi, atau identik dengan sebutan Dewi Soekarno, mau tak mau selalu dipandang sebagai bagian dari sejarah Indonesia. Pasalnya, dalam kaitannya dengan pendiri bangsa, wanita asal Jepang bernama asli Naoko Nemoto ini merupakan istri kelima Soekarno yang dinikahi saat usianya masih 19 tahun.

Lewat jepretan seorang fotografer kondang Jepang, Hadeki Fujii, buku Syuga berhasil terbit tahun 1993. Buku ini sebenarnya merupakan cara lain Dewi menceritakan sekuel hidupnya. Sebagai pembuka, buku ini diawali dengan menampilkan potret dirinya menggunakan noh atau topeng tradisional Jepang dengan karakter seorang wanita cantik, anggun dan menarik. Nampaknya Dewi ingin menciptakan persepsi dirinya sesuai dengan simbol yang ditampilkan topeng tersebut. Selain itu, dalam beberapa jepretan juga, Dewi menjadikan tubuhnya bak kanvas yang dipenuhi dengan gambar indah melalui kepiawaian tangan Teruki Kobayasi. Dalam hal ini, Dewi berhasil menampilkan dirinya sebagai wanita cantik dan menarik di usia 53 tahun–saat foto itu dibuat.

Beberapa foto juga diambil dengan potret dirinya mengenakan busana geisha lengkap dengan atribut payung dan tata rias wajah beserta rambut, yang secara tidak langsung, gambar ini mengingatkan kita akan profesi Dewi sebelum menginjakkan kaki di Indonesia. Di bawah lindungan payung yang dikenakannya tersebut, ia seolah ingin menceritakan bahwa dirinya juga seorang wanita Jepang biasa dengan kimono dan sandal bakiaknya.

Selanjutnya, kisah hidupnya di Indonesia ia tuangkan dalam potret dirinya yang diambil di pulau Bali. Dalam gambar ini, ia menggunakan pakaian tradisional tari Bali dan beberapa batik klasik yang menambah keanggunannya.

Berbeda dengan gambar sebelumnya, kehidupan dahulunya di Paris dalam kumpulan potret di buku ini ia tampilkan dengan begitu mewah dan penuh glamour. Mengambil latar pemotretan di sebuah apartemen yang mewah pula, dirinya dibalut dengan gaun tidur dan gaun pesta, seolah gaya hidupnya di kota mode ini dahulu persis seperti yang ia tampilkan dalam foto-foto tersebut.

Sedangkan dalam beberapa potret yang menggambarkan dirinya berada di akhir paruh usia, Dewi seakan ingin mengungkapkan bahwa akhirnya ia kembali ke Jepang. Ia menampakkan dirinya dalam balutan kimono sederhana dan anggun, pun dikelilingi dengan atmosfer alam yang teduh dan tenang.

Buku Madame D Syuga
Buku Madame D Syuga

Janda Soekarno Diberangus Orde Baru

Sepanjang apapun perjalanan hidup Dewi yang ia gambarkan dalam buku ini, ternyata tim ‘clearing house’, yang terdiri dari pihak Kejaksaan Agung, Kepolisian, Departemen Agama dan Departemen Penerangan di bawah rezim Orde Baru kala itu tak meloloskan peredarannya di Indonesia.

Alasan yang dilontarkan persis seperti yang disebutkan sebelumnya: bahwa Ratna Sari Dewi adalah janda Soekarno. Peredaran buku Syuga yang menampilkan beberapa foto Dewi dalam pose tanpa busana atau setengah terbuka dinilai dapat mencemarkan nama baik tokoh proklamator dan presiden pertama Indonesia.

“Dia istri bung karno itu kan fakta. Tidak mungkin ia melepaskan atribut janda Presiden Soekarno,” ujar Kepala Humas kejaksaan Agung, Suparman dalam wawancaranya kepada Tempo, (20/11/1993).

Alasan lainnya adalah bahwa gambar yang terdapat di buku tersebut dianggap dapat mengganggu perasaan kesopanan, kesusilaan, kepribadian, harkat dan martabat bangsa Indonesia yang berfalsafah hidup Pancasila.

“Kami tidak menggunakan istilah porno. Penjelasan kami itu malah lebih dari hanya sekedar porno,” jelas Suparman.

Landasan yuridis yang digunakan Kejaksaan Agung adalah pasal 282 dan 283 KUHP serta UU No 4 PNPS Tahun 1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Jaksa Agung Singgih mengeluarkan larangan peredaran buku tersebut lewat SK Nomor: 104/JA/11/1993 tanggal 8 November 1993. (Kompas/10/11/1993)

Sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi, melontarkan reaksi paling kencang. Menurutnya tindakan Dewi sangat memalukan. Ia juga menyinggung harga diri Indonesia. “ Itu jelas-jelas bukan menunjukkan citra wanita Indonesia,” Ujar istri Mayjen Sugandhi yang pernah menjadi ajudan presiden Soekarno itu. Ungkapannya ini dibarengi juga dengan harapannya kepada aparat yang berwenang untuk segera memulangkan Dewi ke Jepang.

Lukisan Soekarno dengan Dewi Soekarno
Lukisan Soekarno dengan Dewi Soekarno

Buku Madame D Syuga Bentuk Ekspresi Seni Dewi

Menanggapi pelarangan buku tersebut, Dewi benar-benar dibuat kecewa. Ia berpendapat seharusnya tidak perlu lagi mengaitkan antara dia dengan presiden Soekarno, karena keterlibatannya dengan politik Indonesia dan menikahnya ia dengan Soekarno presiden Indonesia pun adalah kebetulan semata.

“Ketika Presiden Soekarno meninggal dunia, kehidupan saya dengan Soekarno pun telah usai,” ujar Dewi saat ditemui Tempo sesaat setelah peristiwa pelarangan tersebut.

Sedangkan terkait ketelanjangannya di dalam buku tersebut Dewi memiliki jawabannya sendiri; “ ini ekspresi seni” ujarnya. Ia berpendapat bahwa demi keindahan, apa pun diijinkan.

Namun tetap saja, beda perspektif beda pula pandangannya. Sebagaimana yang dikatakan pihak kejaksaan pada saat itu, “Dewi boleh saja menyebut bukunya mempunyai nilai seni, tapi kami tak menanggapinya. Kami hanya melihat faktanya saja bahwa dari 150 gambar, sebanyak 73 merupakan pose dirinya setengah hingga tenjang bulat dengan lukisan naga atau permainan warna melingkar-lingkar di kulit mulusnya,” tandas Suparman.

Penulis: Ummu Aiman

Editor: Bagus Fallensky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *