Dari Penjara Bastille hingga Revolusi Prancis

Bagi kaum revolusioner, penjara Bastille merupakan simbol tirani Kerajaan Prancis. Sebelum jadi penjara, Bastille merupakan sebuah kastil yang dibangun sekitar tahun 1370 M. Pada abad ke–17, Bastille mulai digunakan untuk menahan pelaku kriminal. Sastrawan Marquis de Sade pernah ditahan disana. Rata-rata yang ditahan ialah rakyat jelata, sehingga Bastille menjadi simbol absolutisme kaum bangsawan.

Sejak pertengahan abad ke-18, ekonomi Prancis ambruk karena banyak utang dan besarnya biaya perang. Pemerintah merespon dengan menaikkan pajak sehingga rakyat menderita. Diitambah lagi musim paceklik berkepanjangan yang menyebabkan gagalan panen di seantero negeri. Diperkirakan di tahun 1788 Prancis mengalami derisit hingga 20%. Yang paling dirugikan dengan keadaan ini pastilah masyarakat biasa. Prancis kacau, sedangkan rajanya, Louis XVI, sama sekali tidak berkarisma atau berwibawa. Konon Raja Louis XVI sering memasang dan memecat aparatur negara dengan sesuka hatinya. Dalam suatu pertemuan, Louis XVI tiba-tiba memecat menteri keuangan terbaik kala itu; Jacques Necker.

Alasannya, Necker lebih berpihak kepada rakyat daripada kepada kerajaan. Dia lalu digantikan oleh Baron de Breteuil yang otoriter.
Masyarakat Prancis semakin gelisah ketika mendengar berita pemecatan Necker. Di suasana gelisah seperti ini, emosi mereka terus dibakar oleh Camille Desmoullins, seorang jurnalis, lewat pidato-pidatonya. Dia ditemani Georges Danton, seorang advokat yang bakal menjadi pejabat tinggi pasca Revolusi.
Seperti dikatakan oleh Andrew Hussey dalam bukunya Paris: The Secret History, kerusuhan paling awal terjadi di tempat produksi hiasan dinding milik Jean-Baptiste Réveillon. Sekitar 300 buruh merusak pabrik akibat termakan isu bahwa bos mereka akan memangkas gaji mereka. Dari sana kerusuhan menyebar kemana-mana hingga menjadi sebuah peristiwa sejarah. Paris dipenuhi oleh kaum miskin yang lapar, marah, dan menginginkan keadilan.

Sebastien Hardy, pemilik toko di sekitar Bastille, menjelaskan dalam buku hariannya bahwa ribuan orang turun ke jalan dan akan menyerbu penjara Bastille. Mendengar kabar demikian, Bernard Rene Jourdan, komandan utama Penjara Bastille, menginstruksikan penjaganya untuk menyiapkan senjata untuk mengamankan penjara tersebut. Para tentara awalnya berhasil menahan serbuan massa. Namun, semakin lama semakin banyak orang yang menyerang, maka mereka tak sanggup mempertahankan Bastille. Apalagi ada sekelompok tentara yang memilih berpihak kepada barisan rakyat. Mereka juga membawa sejumlah meriam.

Senjata andalan para penyerang Bastille hanya berupa alat-alat seadanya dan sedikit dukungan dari tentara. Namun, dalam buku Paris: The Secret History, Hussey menyebutkan bahwa sebelum menyerbu Bastille, sebagian massa sempat merampas koleksi museum peninggalan Louis XV. Dari sana mereka mendapatkan senjata jadul seperti pedang dan musket (semacam senapan, populer di abad ke-16). Sebenarnya, Marquis de Launay selaku gubernur penjara Bastille sempat berusaha bernegosiasi dengan massa. Namun gagal, karena massa kala itu sangat anarkis. Diceritakan bahwa seorang koki bernama Desnot berhasil memenggal kepala Launay dengan pisaunya. Kepala itu kemudian diarak di jalan.

Didudukinya Bastille oleh massa pada tanggal 14 Juli 1789 merupakan awal Revolusi Prancis. Tanggal tersebut hingga kini dikenang sebagai Bastille Day (Hari Bastille) dan menjadi salah satu hari libur nasional di Prancis. Sehari sebelum revolusi, Louis XVI menganggap semua akan baik-baik saja, karena menurutnya ini hanyalah sebuah pemberontakan sedang dia yakin militer setia pada dirinya. Namun, semua ternyata tidak baik-baik saja dan pada akhrinya dia dan istrinya, Marie Antoinette, dipenggal dengan Guillotine.

Penulis: Arsyad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *