Bahaya Nonton Film G30S/PKI atau Gatot Jadi Presiden?

Foto: cnn.com

MANTAN Panglima TNI Gatot Nurmantyo lagi-lagi menuai kontroversi dari sejumlah kalangan masyarakat di Indonesia. Kontroversi yang dibuatnya saat ini ialah tentang ungkapan mengenai alasan dicopotnya Gatot dari jabatannya sebagai Panglima tertinggi TNI Angkatan Darat pada 2017 silam.

Gatot mengatakan bahwa jabatannya di copot tak lain karena perintah yang dia lontarkan untuk menayangkan dan menonton kembali film G30S/PKI beberapa waktu lalu.

Bukan hanya sekadar menuai kontroversi, pernyataan gatot juga mendapat tanggapan dari Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid yang menilai bahwa apa yang dikatakan sang Mantan Panglima TNI tersebut berhubungan dengan nafsunya untuk mencalonkan diri jadi Presiden pada 2024 mendatang.

Jika diteliti lebih mendalam pernyataan gatot yang memicu kontoversi ternyata bukan hanya sekali dilakukan. Jauh sebelum itu, dia juga sempat menuai beberapa kontroversi atas apa yang ia lakukan.

Jika nafsu nyapres itu benar, apa jadinya sang mantan Panglima itu benar-benar duduk dan menjabat Presiden? Bahaya manakah dengan perintahnya untuk menayangkan kembali film G30S/PKI atau Gatot jadi Presiden?

Bahaya Laten Nonton Film G30S/PKI

Gatot Nurmantyo mengungkapkan disiarkannya kembali film G30S/PKI bertujuan untuk meluruskan sejarah, dan memberitahu generasi muda tentang sejarah “TNI Angkatan Darat” yang pernah terjadi. Gatot juga mengabaikan polemik dan problem yang muncul akibat disiarkannya film tersebut.

“Kalo selama ini meluruskan sejarah, menceritakan sejarah tidak boleh, mau jadi apa bangsa kita? Urusan polemik, biarin sajalah. Tujuan kita tidak berpolemik, kok. tujuan saya untuk mengingatkan generasi muda, prajurit saya juga tidak tahu itu”. Ujar gatot seperti yang diberitakan Tirto.id.

Kebenaran sejarah yang ingin diluruskan oleh sang mantan Panglima, adalah kebenaran yang hanya benar menurutnya (TNI Angkatan Darat) sendiri. Tanpa memberi ruang yang cukup kepada sumber lain untuk menentukan kebenaran yang seutuhnya.

Pemutaran kembali film G30S/PKI tidak hanya menjadi kontroversi, Tetapi juga menuai kritik dari beberapa pihak. Kritik yang dimaksudkan, yakni tentang beberapa adegan yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Adegan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan salah satunya tentang penyiksaan terhadap beberapa anggota TNI. Hasil autopsi pada tahun 1966 membuktikan bahwa jenazah tidak terdapat tanda-tanda mengalami penyiksaan melainkan mati karena ditembak.

Selain dari adanya beberapa fakta yang tidak sesuai, film tersebut juga memiliki dampak yang cukup buruk terhadap masyarakat, terutama dampak bagi anak anak di bawah umur.

Psikolog anak Vera Ita Hadiwidjojo mengatakan adegan kekerasan yang terdapat pada film tersebut, dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan bagi anak-anak. Karena anak cenderung menelan informasi yang diterimanya karena anak-anak belum dapat berpikir secara kritis.

Dengan ditayangkannya kembali film tersebut, secara tidak langsung meng-amini pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI AD terhadap ribuan orang yang di anggap sebagai anggota PKI.

Andai Gatot Nurmantyo Jadi Presiden

Pernyataan Wakil Ketua MPR terkait penyataan yang di sampaikan Gatot pasti memiliki alasan yang mendasar. Pernyataan Jazilul yang menyinggung keinginan mantan Panglima TNI untuk mencalonkan diri pada pemilihan Presiden tahun 2024, dapat di tinjau dari langkah kontroversi yang di ambil Gatot beberapa tahun silam.

Pada tahun 2016, Sang mantan Panglima sempat terlibat dengan dua Aksi besar Bela Islam, yakni pada tanggal 4 November 2016 dan 2 Desember 2016.

Pada aksi bela islam pertama, gatot tidak terlibat secara langsung di lapangan, namun hanya memberikan dukungan penuh dengan menyatakan bahwa “demo itu membuat dunia tahu bahwa indonesia adalah negara mayoritas islam yang damai, indah dan demokratis” ujar Gatot. Walaupun pada nyatanya, aksi yang di sebut Aksi Damai 411 itu berujung rusuh.

Berbeda dengan aksi 411, pada aksi damai berikutnya Gatot terlibat langsung dengan aksi massa dengan mengenakan baju serba putih disertai dengan peci putih pula. Dengan pakaian yang dikenakannya itu, dia beranggapan bahwa suaranya akan didengar jika dia berpenampilan sama dengan massa Aksi.

“Kalo pecinya putih, saya bagian dari mereka sehingga kalo saya bicara akan didengarkan,” kata Gatot dikutip dari Tempo.

Dilihat dari keterlibatannya di atas, bisa dikatakan bahwa semua itu adalah upaya Gatot untuk menabung dukungan massa menjelang pemilu mendatang.

Upaya menjaring massa yang dilakukan Gatot, tidak hanya berhenti dengan hanya melibatkan dirinya pada Aksi bela islam saja. Beberapa waktu yang lalu gatot melibatkan dirinya dan siap untuk pasang badan sekaligus bergabung sebagai tokoh inisiator dalam deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Deklarasi yang dilaksanakan di tugu proklamasi itu dihadiri oleh beberapa tokoh dan dikoordinir langsung oleh Din Syamsudin.

Langkah-langkah kontroversi yang diambil Gatot beberapa tahun silam, bisa menjadi penguat bahwa Sang mantan Panglima itu benar benar ingin menjadi seorang Presiden. Namun, dengan beberapa manuver yang sudah dia buat, apa jadinya jika pada 2024 mendatang, Gatot benar-benar terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia.

Kebencian Gatot terhadap PKI, dapat berubah menjadi senjata tajam andai kata dia benar benar menjadi seorang pemimpin di Negara ini. Dengan keahliannya membuat manuver kontroversi, bisa saja, setelah dia memiliki wewenang sebagai seorang Presiden, Dia akan membuat kebijakan keras untuk melarang sesuatu yuang berbau komunis di Indonesia.

Dia akan melarang segala bentuk faham dan simbol yang mengarah pada Ideologi komunis. Seperti dilarang mengenakan logo palu dan arit atau atribut serba merah. Atau mungkin bisa jadi warna merah yang terdapat pada Bendera kebangsaan Indonesia akan di ganti dengan warna hijau loreng kebanggaannya. Dengan alasan mencegah kebangkitan PKI di indonesia.

Semua kemungkinan di atas, bisa di lakukkan oleh Gatot manakala dia menjadi seorang Presiden di Indonesia. Seperti yang telah dia lakukan ketika dia menjadi Panglima tertinggi TNI Angkatan Darat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *