Abad ke-14, 60 Persen Warga Eropa Mati oleh Pandemi Black Death

PANDEMI yang saat ini tengah dialami bukanlah pandemi pertama pada catatan sejarah dunia. Namun demikian wabah yang diakibatkan oleh Coronavirus disease (COVID-19), kini menjadi hantu bagi masyarakat dunia yang entah sampai kapan berakhir, Jauh sebelum pandemi ini terjadi, sekitar abad ke-14 juga pernah ada bakteri yang menjadi wabah mematikan. Hampir 60 persen warga Eropa menjadi korban kegansan wabah itu. Wabah tersebut dikenal dengan istilah Black Death.

Ole Benedictow, sejarahwan Norwegia dalam bukunya Black Death mengatakan wabah dengan nama lain Yersinia Pestis ini bukan berasal dari Tiongkok, namun setelah diteliti kembali wabah ini berasal dari daerah Laut Kaspia, dimana saat musim semi 1346 ternyata mulainya dari sana yang kala itu dikuasai oleh Mongol. Namun, Nicholas Wade dan Mark Achtman meneliti wabah ini berasal dari Tiongkok dan Asia Selatan yang sedang dikuasai oleh Mongol.

Baik pendapat Beneditow atau Wade, wabah ini berasal dari jalur sutra yang sampai ke Eropa dibawa oleh orang – orang Mongol yang menyerang pelabuhan Kaffa di sekitar Laut Kaspia. Sehingga pada musim gugur 1346 wabah ini sudah sampai di Eropa, bisa dikatakan berasal dari pedanag jalur sutra. Salah satunya, pedagang dari Genoa naik kapal menuju Sisilia dan Eropa Selatan, tanpa disadari sudah membawa Black Death ke dataran Eropa. Selain itu, pedagang Genoa menelurusi berbagai daerah di Eropa seperti Mediterania, dan Inggris, sehingga Black Death menyebar di dataran Eropa.

Wabah ini berasal dari kutu yang menempel pada tubuh tikus, terutama tikus hitam yang berada di kapal pedagang Genoa. Kemudian menyebar untuk mencari tikus yang baru. Penyebab manusia bisa terkena, salah satunya kutu tersebut menempel di baju dan rambut manusia.
Di Inggris, wabah ini meluas di wilayah London yang juga sampai ke wilayah Oslo, Norwergia melalui kapal dagang Inggris. Penyebaran Black Death di Norwergia merupakan sangat cepat dibanding Jerman dan belanda. Karena wabah ini berasal dari kutu tikus yang muncul dan berkembang biak saat musim semi dan gugur yang suhunya hangat, saat musim dingin wabah ini tidak terjadi, semisal di Norwegia, dari tahun 1349 – 1652.

WJ Simpson menejelaskan dalam karyanya A Treatise On Plague bahwa Eropa sekitar abad ke 18 dan 19 wabah Black Death sudah jarang ditemui, bahkan dalam hasil penelusuran petugas medis kala itu, wabah tersebut dipastikan tidak ada.

Wabah Black Death merupakan wabah tahap dua yang cukup menghebohkan kala itu, sebelumnya melalui catatan sejarah zaman Byzantium, wabah yang berasal dari China ini memasuki Pelusium, muara sungai Nil. Menurut Wendy Orent, wabah ini menyebar melalui dua jalur, yaitu dari utara Alexandria dan timur Palestina. John Horgan berpendapat dalam bukunya Ancient History Encyclopedia, penyebaran wabah kutu tikus ini berasal dari kapal pedagang yang mengangkut gabah.

Tahap ketiga penyebaran wabah ini berasal dari Yunan, China tahun 1894 yang menyerang daratan Eropa. Berasal dari Yunan menyebar ke Hong Kong lalu sampai ke Hawaii tahun 1899 dan San Francisco tahun 1900 melalui kapal dagang.

Wabah Yersinia Pestis atau Black Death ini menjadi wabah yang menciptakan trauma besar di kehidupan dunia, terutama di Eropa. Ketika wabah ini memasuki Jawa pada tahun 1910, betapa khawatirnya Belanda. Wabah ini berasal dari kutu tikus yang suka berada di kapal dagang, sehingga sangat mudah menyebar.

Penulis: Arsyad Fauzi

Editor: Bagus F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *