Mengenal Menteri Agama RI Pertama, HM Rasjidi

Menteri Agama Pertama, HM Rasjidi

Prof Dr Haji Muhammad Rasjidi memiliki nama kecil Saridi yang lahir di Kotagede pada hari Kamis Pahing tanggal 20 Mei 1915 M atau bertepatan pada tanggal 4 Rajab 1333 H dikenal sebagai Menteri Agama pertama Republik Indonesia tepatnya pada Pemerintahan Kabinet Sjahrir II (12 Maret- 2 Oktober 1946).

Rasjidi adalah anak kedua dari lima orang bersaudara, ayahnya Atmosudigdo merupakan seorang pengusaha kain, batik, perhiasan dan berlian yang sukses dan berpengaruh. Dalam menjalankan syariat agama H M Rasjidi mengaku berlatar belakang keluarga Abangan.

“Aku ini seorang warganegara Indonesia, dari suku Jawa. Keluargaku adalah keluarga yang biasanya disebut ‘Keluarga Abangan’. Artinya yang beragama Islam tetapi tidak melakukan ibadat sehari-hari. Aku belajar agama Islam. Berat bagiku untuk melakukan sembahyang lima kali sehari. Sering aku meninggalkan, sering aku merangkap sembahyang, ini namanya Qadha orang Jawa menamakan ‘Kolo’ baru setelah aku menjadi tua, aku dapat melakukan ibadat sehari-hari pada waktunya. (Buku karya H M Rasjidi, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam. Jakarta : Bulan Bintang, 1980. hal. 9)

Memasuki jenjang pendidikan, H.M Rasjidi di daftarkan ayahnya untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah Belanda setingkat dengan SD yang menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar. Sekolah itu bernama Ongko Loro, yang mana sekolah SD pada umumnya selesai pada kelas 6 namun sekolah Ongko Loro ini selesai hanya sampai kelas 5.

Selanjutnya, Rasjidi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Rakyat Muhammadiyah yang ada di Kotagede Yogyakarta. Selepas mengenyam pendidikan di sekolah Rakyat ini, Rasjidi pergi melanjutkan ke Kweecschool–Sekolah pendidikan guru model Belanda yang ada di Kotagede Yogyakarta.

Tidak puas sampai disitu, Rasjidi kemudian melanjutkan studinya sebagai murid Ahmad Syukati yang merupakan seoarang ulama asal Sudan pindah dari Jakarta ke Lawang Jawa Timur untuk membuka sekolah Al-Irsyad disana. Di Al Irsyad, Rasjidi merasa tidak puas atas apa yang dipelajarinya, hingga pengembaran pendidikannya mengantarkannya ke Kairo, untuk meneruskan studi di Universitas Dar ’Ulum, Kairo.

Hingga kepulangannya ke Indonesia pada 1938, Rasjidi langsung berkecimpung dalam bidang politik dan organisasi ia pertama kali bergabung dengan PII (Partai Islam Indonesia) yang ketika itu baru berdiri. Pada 11 April 1940.

Rasjidi terpilih sebagai komite Nasional Partai Islam pada kongres pertama yang diadakan di Yogyakarta. Lebih dari itu, H.M Rasjidi adalah anggota Muhammadiyah yang pada masa penjajahan Jepang mampu menjadi salah satu pemimpin Masyumi.

Rasjidi juga aktif dan mengabdikan diri dalam bidang pendidikan. Demi mengisi waktu luangnya, Rasjidi mengajar di salah satu Madrasah Ma’had Islami yang dipimpin oleh K H Amir yang terletak di Kotagede.

Rasjidi terus melenggangkan sayapnya dalam bidang pendidikan. Dirinya mulai dipercaya menjadi Kepala Perpustakaan Islam di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang, menjadi Sekretaris Senat Guru Besar di salah satu Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Muhammad Hatta pada tahun 1994.

Nampaknya, menjelang awal kemerdekaan keberadaannya di Jakarta mampu mengikuti perkembangan perpolitikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Terlebih ia menjadi penyiar radio Jepang menggantikan Kahar Muzakkir yang ketika itu tugasnya menyiarkan berita politik Internasional di bagian Bahasa Arab.

Sampai kepada pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, H.M Rasjidi mengemban tugas untuk menyiarkan berita perihal kemerdekaan Indonesia kepada dunia Internasional.

Tepatnya pada 14 November 1945, kabinet Presendsial beralih menjadi kabinet Parlementer, di mana Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menterinya, menunjuk Rasjidi sebagai Menteri Negara. Kabinet yang dibentuk ini tidak berlangsung begitu lama hingga dibentuk kembali Kabinet Sjahrir II yang secara resmi membentuk Kementrian Agama dan Rasjidi ditunjuk untuk menempati posisi tersebut.

Sumber:
Endang Bashri Ananda, 70 Tahun Prof. Dr. H.M Rasyidi (Jakarta: Harian Umum Pelita, 1985)
Innani Musyaropah, Jurnal : ‘Hubungan Kristen Dan Islam Di Indonesia’
Azyumardi Azra dan Idris Thaha, Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, aktualitas, dan aktor sejarah, (Jakarta : Gramedia Pustaka, 2002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *